Tampilkan postingan dengan label Kepemimpinan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kepemimpinan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Juli 2017

Manajemen Kepemimpinan dalam Islam

 Dari teori dasarnya meliputi: hakikat kepemimpinan, dan urgensi kepemimpinan. Serta aplikasinya meliputi: tugas kepemimpinan, fungsi kepemimpinan, karakteristik pemimpin yang efektif, syarat-syarat pemimpin, dan aspek perbandingan antara; pemimpin, ketua, manajer.
            
Hal-hal tersebut akan saya uraikan secara singkat dan jelas, agar pembaca dapat mengerti apa yang saya tulis dalam tugas saya ini. Saya berharap kita semua bisa mengetahui teori dasar “Manajemen Kepemimpinan dalam Islam” dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan kita sebagai seorang pemimpin. Hal-hal ini sangat penting untuk digunakan, karena sewaktu-waktu akan sangat berguna untuk kita, dari waktu kita sekarang membaca tulisan ini sampai masa depan kita nanti.

Hakikat
            Hakikat kepemimpinan dalam pandangan Islam adalah amanah yang harus dijalankan dengan baik dan dipertanggungjawabkan bukan saja di dunia tapi juga di hadapan Allah nanti di akhirat. Kepemimpinan yang tidak dilakukan secara profesional dan proporsional adalah pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Dalam sabda Rasulullah SAW:
“Bagi siapa yang memimpin suatu urusan kaum muslimin lalu ia mengangkat seseorang padahal ia menemukan orang yang lebih pantas untuk kepentingan umat Islam dari orang itu, maka dia telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (H.R. Hakim)
“Tidak ada seorangpun pemimpin yang diminta oleh Allah memimpin rakyat yang mati sedang dia curang terhadap rakyatnya kecuali Allah mengharamkan atas dirinya mencium bau surga.” (H.R. Muslim)
Kepemimpinan seharusnya tidak dicari apalagi diperebutkan, kecuali dalam kondisi tertentu untuk kemaslahatan yang lebih luas. Rasulullah bersabda:
“Sungguh saya tidak akan memberikan kepemimpinan ini kepada orang yang mencarinya, karena sesungguhnya kepemimpinan itu adalah amanah dan akan membawa derita nanti pada hari kiamat.”
              Perebutan dan jual-beli kepemimpinan adalah bukti kurangnya kesadaran kita untuk melahirkan pemimpin yang menjaga amanah dan kemaslahatan umat. Semua orang berpotensi menjadi pemimpin, tapi tidak semua orang bisa menjadi pemimpin, karena tanggungjawab yang berat dan komplek. Pemimpin masih butuh koreksi dan dukungan dari umat.

Urgensi Kepemimpinan
            Dalam kehidupan keagamaan kepemimpinan adalah suatu yang sangat urgen dalam mencapai cita-cita bersama. Dalam menata kehidupan yang dinamis dan interaktif sudah pasti dituntut adanya seorang pemimpin yang bertugas melaksanakan, memandu dan membawa pekerjaan itu ke arah tercapainya sasaran.
            Begitu urgennya kepemimpinan, sehingga Rasulullah SAW memerintahkan kepada kita untuk mengangkat seorang pemimpin walaupun dalam komunitas yang paling kecil sekalipun dan sasarannya sangat sederhana. Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila ada tiga orang diantara kamu keluar dalam suatu perjalanan, maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang di antara mereka seorang pemimpin.” (H.R. Abu Daud)
            Bukti lain urgensi kepemimpinan dalam Islam yaitu para sahabat Rasulullah SAW lebih memprioritaskan mengurus masalah suksesi kepemimpinan Rasulullah SAW, dibanding mengurus pemakaman Rasulullah SAW. Artinya dalam berjama’ah tidak boleh ada kevakuman kepemimpinan.

Tugas Kepemimpinan
            Istilah yang dipakai untuk menyebut seorang pemimpin dalam Islam dan mencerminkan tugasnya, yaitu sebagai berikut:
· Khalifah: secara etimologis berarti pengganti atau pelanjut tugas-tugas Rasulullah SAW. Tugas kepemimpinan dalam Islam adalah melanjutkan tugas-tugas risalah yang diemban Rasulullah SAW.
·     Imam: secara etimologis artinya yang diikuti dan ditaati.
·   Amier: secara bahasa amier artinya adalah yang diperintah atau disuruh. Bahwa seorang pemimpin itu adalah orang yang siap diperintah atau disuruh oleh umat, demi kepentingan mereka. Pemimpin dalam Islam adalah melayani umat bukan dilayani umat.
· Ra’in: secara bahasa adalah pengembala, tugas seorang pemimpin adalah menjaga, merawat, dan memberi perhatian penuh kepada umat.
·   Qaa’id: secara bahasa adalah penuntun atau pembimbing. Bahwa seorang pemimpin itu punya tugas sebagai penuntut umat dan pembimbing mereka ke jalan yang benar yang diridhai Allah.

Fungsi Kepemimpinan
            Kepemimpinan dalam Islam memiliki fungsi strategis dan fungsi operasional.
Fungsi strategis pemimpin itu sebagai:
1.  Fasilitator yang membantu tercapainya sasaran dan tujuan jama’ah.
2.  Dinamisator yang menggerakkan dan memotori jama’ah menuju sasaran yang ingin dicapai.
3.  Kekuatan moral yang mampu menjaga kohesi jama’ah dan menyelesaikan konflik serta perselisihan yang mungkin terjadi di dalam jama’ah.

Fungsi operasional pemimpin itu sebagai:
1.      Organisator yang mengorganisir dan mengatur relasi dan keterikatan antar individu atau kelompok yang ada dalam jama’ah.
2.      Mampu mengatur berbagai potensi yang ada dalam jama’ah untuk kemudian dimanfaatkan untuk mencapai tujuan jama’ah.
3.      Administrator yang menjaga, menata dan mengevaluasi hasil-hasil yang sudah dicapai oleh jama’ah untuk mencapai tujuan yang lebih jauh lagi.

Karakteristik Pemimpin yang Efektif
Sebagai pemimpin akan efektif dalam menjalankan tugasnya, apabila memenuhi karakteristik berikut ini:
  • · Memiliki sasaran yang jelas dan yakin bahwa dirinya mampu melaksanakan. Dengan memperlihatkan kepada mereka usaha dan motivasi yang kuat secara berlanjut mereka akan tambah semangat, yang akhirnya produktivitas kerja jama’ah semakin meningkat.
  • ·         Tenang dan mampu menahan diri, apapun yang dihadapi seorang pemimpin.
  • ·   Bertanggungjawab, artinya seorang pemimpin harus merasa apa yang diembannya itu adalah amanah dari Allah dan dari umat, sehingga mendorongnya untuk melaksanakan kepemimpinannya dengan baik.
  • ·       Mengenali staf dan anggotanya, hal ini akan memberi pengaruh yang sangat besar pada penciptaan keselarasan dalam bekerjasama dan akan memberikan motivasi kepada anggotanya untuk bekerja lebih baik dan berinovasi.
  • ·   Cekatan dan inovatif, artinya seorang pemimpin yang efektif harus cepat dan tegas dalam mengambil tindakan.
  • ·         Memberikan keteladanan dan contoh.

Syarat-syarat Pemimpin
Untuk menjadi seorang pemimpin diperlukan syarat-syarat tertentu supaya dapat merealisasikan tugas dan fungsinya. Syarat-syarat itu adalah:
1.      Memiliki integritas moral yang tinggi (amanah, shiddiq, adil, dan sabar);
2.      Memiliki kecerdasan intelektual (fathanah, basthatan fil ilmi);
3.      Komunikatif dan interaktif dengan sesama. (tabligh);
4.      Memiliki kecerdasan emosional dan kepekaan sosial (azizun aaihi maa ‘anittum, harisun alaikum, ro’uf rohiem);
5.      Berpenampilan sempurna secara fisik (basthatan fil jismi);
6.      Memiliki keberanian dan tanggungjawab (syaja’ah dan sahamah);
7.      Ditempa dan dilatih dengan pengalaman hidup yang panjang. (tarbiyah dan tajribah ‘Aridhah)

Pemimpin, Ketua, dan Manajer
Aspek Perbandingan
Pemimpin
Ketua
Manajer
Pemilihan
Dipilih oleh jama’ah berdasarkan pengakuan spontan dari anggota-anggotanya.
Terpilih karena suatu sistem dan bukan hasil pengakuan spontan.
Diperoleh melalui pengangkatan.
Sasaran
Bekerja untuk mewujudkan sasaran yang dimandatkan jama’ah.
Bekerja untuk mewujudkan target yang dipilih secara pribadi dalam batas-batas kepentingannya.
Targetnya meraih keuntungan materi atau kedudukan.
Anggota
Para anggota memilih pemimpin dan menjadi pengikutnya.
Kita tidak dapat mengatakan para bawahan sebagai pengikut karena mereka tidak menerima otoritas atasan berdasarkan kemauan mereka.
Kita tidak menyebut anggota-anggotanya sebagai pengikut atau bawahan.
Otoritas (kekuasaan)
Otoritas pemimpin merupakan pilihan spontan dari pihak anggota jama’ah.
Otoritas pimpinan datang dari otoritas luar jama’ah.
Terkadang dipilih dari anggota yang paling tua atau senior.
Hubungan
Seorang pemimpin bekerja dengan cara melebur dan berbaur dengan para pengikutnya.
Terdapat jurang dan jarak sosial yang memang disengaja antara kepala dan bawahan.
Hubungan diatur oleh program-program dan terikat dengan pekerjaa

Sabtu, 31 Desember 2016

PEMIPIN KARISMATIK



"Erdogan salah satu pemimpin
kharismatik dunia.."
 Thesaurus bahasa Inggeris karya Peter Mark Roget kata karisma (charisma) mempunyai empat arti : daya tarik, kecemerlangan, pengaruh dan kekuasaan. Sehingga seseorang yang dipandang sebagai pemimpin karismatik maka masyarakat melihat orang yang memiliki daya tarik besar pengaruhnya, cemerlang dan besar kekuasaanya.
Menurut

Seorang pemimpin yang hanya memilikikekuasaan serta pengaruh belaka, tanpa memiliki daya tarik dan kecmerlangan tidak akan diperlakukan sebagai seorang pemimpin karismatik oleh masyarakatnya yaitu dihargai segenap pendapatnya dan dipatuhi setiap perintahnya.

Kecemerlangan Nabi Muhammad SAW sebagai seorang pemimpin Negara maupun spiritual telah diakui dalam sejarah, diakui kepemimpinannya dikalangan para ummat dan para sahabatnya, disegani oleh lawan-lawannya. Serta sanggup mengerakan seluruh pengikutnya untuk melaksanakan segenap gagasan politik serta gagasan serta prilaku beliau yang kemudian disarikan dan diceritakan kembali dalam sebuah  kodifikasi Hadits yang sampai sekarang masih ditaati sebagai sumber hukum selain kitab suci Al-Qur’an.

Menurut para ahli strategi kelebihan Rasulullah datang dari dua sudut yaitu kepribadiaannya dan gagasan-gagasan yang dtiegakkanya. Bahkan charisma beliau ditempatkan oleh Michael G.Hart sebagai manusia peringkat pertama di dunia dari 100 orang yang paling berpengaruh di dunia. Pemimpin lain yang lebih terkenal sebagai pemimpin karismatik walau kadarnya rendah seperti Jeanne d’arc (1412-1431), Napoleon Bonaparte (1769-1821), Kemal Fasha Ataturk (1881-1839), Mahatma Gandhi (1868-1949) ataupun ada juga pemimpin yang berhasil menghimpun pengaruh tetapi  tidak memiliki  karisma seperti Lyndon Baine Johnson (1908-1973), Cho Enlai (1898-1976), getuli barkas (1930-1954), dll.


Senin, 24 Oktober 2016

Lead To Bless” Leader



Apakah Karakter itu?

Didalam rumah, ia adalah kebaikan
Didalam bisnis, Ia adalah kejujuran
Didalam masyarakat, ia adalah kesopanan
Didalam pekerjaan, ia adalah kecermatan
Didalam permainan, ia adalah sportivitas
Terhadap  yang beruntung, ia memberi selamat
Terhadap yang lemah, ia menolong
Terhadap yang jahat, ia bertahan
Terhadap yang kuat, ia percaya
Terhadap yang menyesal, ia memaafkan
Dan terhadap Tuhan, ia menghormati dan mengasihi.

THE HEART OF A LEADER

Karakter Seorang Pemimpin

Tujuh Hati Yang Membentuk Karakter Kepemimpinan

Pertama, pemimpin yang memiliki hati sebagai PENJAJAH akan memosisikan karyawan sebagai budak tanpa nilai dan hak. Memberi pekerjaan kepada mereka dianggap sebagai kebaikan hati yang tak terbalaskan.dia menganggap dirinya sebagai penyelamat dan raja besar sehingga pantas untuk menerima loyalitas absolute dari karywan, termasuk kehidupan pribadi mereka. Dalam kontek karyawan sebagai sumber daya manusia, ia menganggap karyawan adalah daya, bukan sumber daya apalagi manusia

Kedua, pemimpin yang memiliki hati sebagai PENYAMUN akan memosisikan kayawan sebagai buruh yang hanya memiliki sedikit hak tapi menanggung segudang kewajiban. Hak karyawan diberikan dalam konteks normatif minimal. Kewajiban dituntut scara posesif maksimal. Karyawan dianggap sebagai daya dengan memiliki sedikit sumber yang mudah dcari penggantinya.

Ketiga, pemimpin yang memiliki hati sebagai PENGAWAS. Sudah memosisikan karyawan sbagai sumber daya selain modal dan mesin yang cukup penting untuk merealisasi hasil prouksi barang dan jasa. Ia harus dikelola secara cermat dan di beri program pelatihan dan pengembangan agar menjadi sumber daya dengan kulitas tinggi.

Keempat, pemimpin yang memiliki hati sebagai PETANI. Ia sudah memosisikan karyawan sebangai sumber daya manusia. Ia sudah mnyeimbngkan antara kebutuhan karyawan sebagai sumber daya dan sebagai manusia. Ia sudah mulai memikirkan aspek kebutuhan manusia yang amat berbeda dengan sumber daya lainnya.

Kelima, pemimpin yang memilik hati sebgai PENGEMBALA. Tipe hati ke lima ini sudah memiliki kecenderungan pada keseimbangan sisi manusia bukan pada sumber daya Ia menganggap karyawan sebagai manusia sebagai makhluk hidu sesame ciptaan Tuhan yang patut diberdayakan ssuai dengan kodrat Ilahinya.

Keenam, pemimpin yang memiliki hati sebagai PELAYAN yang justru melihat karyawan sebagai subjek yang harus melayani pemimpinnya.Ia melihat struktur organisasi sebagai piramida terbalik yang menggangap pimpinan harus mendukung karyawan agar mampu berprestasi sebaiknya untuk melayani untuk melayani pelanggan dan pemangku kepentingan lainnya. Prinsip segitiga terbalik inilah yang membuat sisi kemanusiaan karyawan menjadi lebih bermakna, Ia sebagai pekerja,anggota keuarga dan masyarakat yang harus dipenuhi kebutuhannya secara simultan.

Ketujuh, pemimpin yang memiliki hati sebagai PARENT atau memilik hati sebagai Ayah. Kondisi hati seperti ini akan menggap karyawan sebagai anak yang harus  dibesarkan, dididik dan dikembangkan agar dapat mewarisi kepiawaian yang dimilikinnya dan kursi kepemimpinan yang didudukinya saat ini. Karyawan tidak diperlakukan sebagai orang lain tapi sebagai anggota keluarga yang harus dibina secara harmonis.

Diantara ketujuh hati tersebut, ada unsur antagonis dan paradox yang tidak dapat dipertemukan. Petani ada pada titik netral. Bagi yang memiliki hati sebagai penjajah maka ia akan selalu bertentangan dengan pemimpin berhati parent (ayah). Pemimpin yang berhati penyamun akan selalu bersitegang denagn pemimpin berhati nelayan. Pemimpin yang berhati pengawas akan bertolak belakang dengan pemimpin berhati penggembala. Demikian pula dengan dengan karyawan. Kalau karyawan memiliki hati pada sisi kutub negative akan selalu berkonfrontasi dengan pemimpin yang berhati disisi kutub positif demikian pula sebaliknya. Ada pertanyaan yang sering dilontarkan (frequently asked questions) oleh para pekerja yang sering bingung

The heart of A Leader itu talenta atau pilihan.
Karakter yang merupakan refresentasi dari the heart of the leader adalah suatu pilihan. Ketika sorang timbul kesadaran diri akan adanya hokum resiprokal dan hokum tabor tunai, maka ia akan senantiasa waspada dan akan mengembangkan suatu karakter yang bukan hanya baik bagi dirinya sendiri tapi baik bagi orang lain. Ketika ia memberikan hati bagi orang lain, maka lambat laun seluruh manusia yang diberi hatinya akan memberi hatinya kepadanya. Satu hati akan diganjar dengan beribu hati.

Demikian juga dalam pengelolaan perusahaan, pemimpin yang menutup hatinya bagi manusia lain akan mendapat balasan setimpal, ia tidak mendapat penghormatan sebagai manusia bermartabat tetapi hanya sebagai manusia yang member materi.


THE HEAD OF A LEADER

Talenta Sebagai Pondasi Kompetensi
Setiap manusia dikaruniai Tuhan dengan talenta. Ada yang diaruniai lima talenta, artinya memiliki banyak bakat dan kemampuan untuk berkarya diberbagai bidang dan berperan di banyak peran. Ada yang dikarunia dengan tiga talenta, jumlah rata-rata untuk bisa bertahan dipersaingan dan mendaki puncak dalam suatu jajaran organisasi. Ada pula yang hanya dikaruniai satu talenta, satu kemampuan khusus yang kalau dikembangkan bisa menjadi spesialis yang tak ada bandingannya.

Talenta yang diberikan kepada setiap manusia sangatlah unik dan tak ada yang bisa mereplikasikan atau meniru dengan sempurna. Demikian uniknya sehingga manusia yang satu dengan yang lain perlu berkolaborasi untuk menghasilkan sinergi yang luar biasa.
Dalam konteks kepemimpinan, konsep tersebut dapat diaplikasikan dengan tujuh peran yang berbeda yang sebenarnya satu dengan yang lain saling melengkapi. Ketujuh tipe peran ini menunjukkan tujuh talenta dasar yang dikaruniakan Tuhan kepada setiap orang untuk berkontribusi dalam sebuah organisasi.

Tidak ada tipe yang bisa bertahan di setiap waktu, setiap tipe peran sangat pas untuk kondisi tertentu dan kalau dipaksakan untuk bertahan walau kondisi keadaan sudah menuntut perubahan maka gerak organisasi menjadi amat lambat.

Tujuh Jawara bisnis Mejikuhibiniu

Banyak terkejut ketika keluarga sampoerna, dimotori oleh Putra dan Michael Sampoerna, melepas saham yang selama ini menjadi ikon dan identitas mereka, yakni PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP). Tak ada rumor yang mampu dibaca oleh analis, pemegang saham, dan karyawan. Sebuah transkasi menurut banyak pihak nyaris tak terdengar. Ketika rahasia itu terungkap, banyak kalangan yang kaget dan bertanya, mengapa dan ada apa?

Padahal dalam konteks lain yang tak sebesar HMSP, banyak pengusaha yang melakukan terobosan nyaris sama. T.P Rahmat, mantan petinggi Astra, melepas ikon Adira Finance ke group Danamon dan Adira mobil ke partner eksekutifnya, Stanley Setia Atmadja.

Mengamati kiprah dua tokoh bisnis di Indonesia tersebut saya membuat rumusan talenta dan bakat pemimpin bisnis dengan gaya dan triknya yang sangat berbeda, yang akan membawa perusahaannya searah dengan talentanya.

Pertama, saya sebut sebagai tokoh bertalenta PEMIMPI (The Dreamer), Pemimpi ini bukan pengkhayal. Pemimpi ini adalah pemimpin yang bertalenta kuat mencari visi dan misi yag baru, mencoba menghidupi misi dan visi yang dipikirkanya, dan berusaha sekuat tenaga mewujudkanya. Dalam bahasa warna, saya simbolkan sebagai pemimpin yang berdarah MERAH, yang berani bertualang dalam dunia id dan konsep untuk menelurkan gagasan baru yang belum dipikirkan sebelumnya.

Kedua, tipe jawara kelas PERANCANG (The Architect).
Kelas ini merupakan pemimpin yang bertalenta yang bisa menerjemahkan mimpi menjadi cetak biru yang solid dan lengkap. Mampu merangakai sistem dan infrastruktur serta tahapan pembangunan kampium bisnis yang akan dikerjakan

Ketiga, tipe pemimpin yang mampu membangun acara kokoh apa yang telah dirancang dengan teliti (The builder)
Kadang menggunakan pendekatan preman atau buldoser, dan kadang harus keras mengangkat batu karang dengan gaya excavator dan sering pula dengan sentuhan lembut tangan malaikatnya tangan maradona.Ini jenis pekerja keras, tipe ketiga ini disebut sebagai pembangun (The Bulder)

Keempat, saat perusahaan sudah melaju pesat dan persaingan mulai ketat, diperlukan pemimpin yang mau mempertajam business model dan business process agar tetap unggul dalam persaingan (The Shoper).

Pemimpin yang mampu melakukan penajaman sisi operasional dan structural bisnis ini dipanggil sebagai The Shaper (Penajam) bukan penujum yang mengandalkan hoki untuk menenagkan persaingan.

KeLima, ini yang paling menyenangkan setelah pohon mulai tumbuh subur, berbunga, dan berbah lebat diperlukan seorang penuai (The Harvester) yang cakap,yang tahu mana yang harus di tuai, mana yang harus dibuang dan mana yang harus dibuang, dan mana yang harus ditunggu.

Keenam, setelah masa berbuah yang sangat lebat, timbul paradok yang harus dihadapi (The Reinventer). Ini Talenta seorang Reinventer (Pembaru).ini tipe yang sangat langka, kurang dari 2%pemimpin mempunyai keberanian seperti itu.

Ketujuh,kalau tidak berani melakukan rombakan mendasar tetapi memilih S kedua dengan kaizen, maka yang diperlukan adalah pemimpin yang berfungsi sebagai the operator (Pelaksana), yang menjaga agar pohon bisnis tetap berbuah walau pohon sudah pada tahap matang matang (mature) dan mengarah ke penurunan (declicing Phase)

THE LEFT HAND OF A LEADER (THE WORKING HAND)
The Hand of a Leader menunjukan bagaimana ia berkiprah secara langsung untuk membuktikan bahwa ia dibawah kepemimpinannya perusahaan dan karyawan akan menggapai sukses. Sukses buat Lead to Bless Leader adalah sukses dua tujuan utama bagai dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan :
·         Perusahaan yang  Sejahtera (Fit and Prosper)
·         Karyawan yang Bahagia (Happy).

Setidaknya ada 10 key performance Indicator (KPI) yang harus senantiasa dicermati pemimpin agar perusahaannya mampu mewujudkan misi dan visi yang diinginkannya yang disebut dengan Fit And Prosper
a)      Financial  Saundness.Rasio keuangan perusahaan yang baik.
b)      Innovation Initiatives: inisiatif inovasi yang menghasilkan produk unggulan.
c)      Talent Management: Pengelolaan kade pemimpin mendatang
d)     Profitability :Kemampuan menghasilkan laba.
e)      Revenue: kemampuan penetrasi pasar dengan pangsa pasar yang tinggi.
f)       Organization Productivity: Produktivitas karyawan secara langsung
g)      Satisfaction of customers: kepuasan pelanggan atas produk dan perusahaan
h)      Proses Excellence.Efisiensidan proses bisnis yang terbaik
i)        Employee satisfaction: Kepuasan karyawan atas perusahaan
j)        Return To shareholders: dividend an kenaikan harga saham.



Kesepuluh KPI tadi harus menjadi focus pimpinan dalam mengelola perusahaan.. Strategi untuk mewujudkan hal tersebut dapat di rangkum dalam The 10 C of Leader’s Focus.

Pertama, Cutomer atau pelanggan. Pelanggan adalah subjek utama yang harus dilayani oleh seluruh jajaran perusahaan.Pemimpin harus sadar dari pelangganlah mengalir uang untuk membayar gaji, membuat produk baru dan ide baru untuk mengembangkan produk selanjutnya.

Kedua,Compotitiveness atau daya saing. Pemimpin harus senantiasa memeperhatikan daya saing perusahaannya. Apa yang membuat perusahaan tetap dapat mempertahankan daya saing lima tahun kedepan?

Ketiga, Chanel of Distribution atau mitra kerja.mereka adalah kepanjangan tangan untuk mengjangkau pelanggan dan pemasokagar produk yang dihasilkan sampai ketangan pelanggan.

Keempat, Core Competence atau kompetensi esensial. Pemimpin harus terus memperhatikan apa yang harus menjadi kompetensi utama perusahaan. Sampai seberapa jauh tingkat kompetensi ini selangkah lebih baik dari pesaing.

Kelima, Culture and Character – Budaya dan Karakter. Budaya kerja apa yang ingin dikembangkan agar menjadi identitas prusahaan dan kebanggaan karyawan? Samapi seberapa jauh  budaya ini menjadi keunggulan perusahaan dibanding pesaing?   

Keenam, Collaboration – Kolaborasi. Perusahaan tidak akan mempunyai kekuatan untuk mengembangkan segalanya secara sendiri. Membutuhkan kolaborasi dengan pihak lain sehingga terjadi percepatan peluncuran produk dan perkembangan teknologi yang lebih baik.
Ketujuh, Commercial – komersial jangka panjang. Perusahaan harus “on going “ karenanya focus pada keuntungan jangka pendek sangat membahayakan. Bagaimana menyiasati keseimbangan antara jangka pendek dan jangka panjang? Apa yang harus diinvestasikan untuk meningkatkan keuntungan jangka panjang?

Kedelapan, Community Development – pengembangan komunitas. Masyarakat disekitar dan masyarakat luas harus menikmati kesejahteraan yang dicapai oleh perusahaan,

Kesembilan, Capital – Struktur Permodalan. Siapa yang berutang menjadi budak yang mengutanginya. Ini adalah prinsip yang masih sohih dalam kondisi saat ini. Modal yang kuat bak rumah dengan pondasi yang kokoh diatas batu karang bukan pasir.

Kesepuluh, Control – Kemandirian. Kalau kesembilan aspek tersebut mampu dikelola dengan baik maka perusahaan akan mampu mengontrol arah dan tujuannya, bukan pihak lembaga keuangan dan principal.
THE RIGHT HAND OF A LEADER (THE LOVING HAND)

Membuat pekerja yang berbahagia membutuhkan sentuhan bukan hanya pada aspek financial, emosional, dan spiritual pekerja itu sendiri tapi juga mencakup seluruh keluarganya. Itu sebabnya bisa disebut juga sebagai bagian dari tangan kanan right hand) dan seorang pemimpin yang melambangkan ; a. Kepercayaan dari pemimpin bukan pada sumber daya Lin tapi manusia sebagai harta yang paling berharga dalam pengembangan usaha. b. Kedekatan dar pribadi pemimpin dan yang dipimpin. Tangan kanan adalah tangan yang sering digunakan untuk memeluk mengayomi dan mengasihi. c. Kepemimpinan yang efektif karena dengan tangan kanan dapat digunakan untuk menunjukjalan, menjabat tangan,member peringatan, dan umpan balik.

Ada Lima Peran Pemimpin dalam The Loving Hand

Peran kesatu, sebagai Commander. Pemimpin yang mampu menentukan arah dan tujuan organisasi dan mampu menggerakan seluruh karyawan berjalan pada arah dan tujuan yang sama.

Peran kedua sebagai Communicator.Pemimpin yang mampu berkomunikasi secara terbuka dan tulus dengan karyawannya untuk menciptakan lingkungan kerja yang menyenangkan.

Peran ketiga sebagai Conductor. Pemimpin yang mampu menghasilkan sinergi antarindiidu untuk menjadi “superteam “ yang paling kuat dan solid.

Peran keempat sebagai Converter.Pemimpin yang mampu mambuat karyawan biasa menjadi karyawan yang luar biasa dan karyawan yang luar biasa menjadi jawara.

Peran kelima sebagai Comporter
Pemimpin yang menjadi pribadi yang menyenangkan untuk dijadikan sahabat didalam dan di luar kerja. Ayah yang baik selalu memberikan kesempatan kedua ketika anaknya gagal melakukan sesuatu yang diperintahkannya.

Kalau sudah begitu pemimpin menjadi seperti angin. Kadang tidk kelihatan secara fisik tapi keberadaannya tetap dapat dirasakan. Memberikan kesejukan dan kesegaran. Kalau pemimpin yang buruk ia adalah angin kotor, tidak kelihatan tapi meninggalkan bau yang membuat muak karyawannya, kalaupun da yang bertahan, ingin segera pergi karena tak kuat menahan baunya.

Ada Lima Tanggung Jawab Pemimpin
Tanggung jawab kesatu member comprehension. Pemimpin yang mengenal pribadi dan memiliki perhatian yang tulus dan sungguh-sungguh kepada karyawan dan keluarganya secara menyeluruh.
Tanggung jawab kedua member correction.Pemimpin yang mengupayakan karyawan berada pada jalan yang benar dengan melakukan langkah koreksi untuk pengembangan dan pertumbuhan potensi karyawan.
Tanggung jawab ke tiga membangun connection.Pemimpin yang mampu menciptakan hubungan yang baik antar sesame pribadi, pekerjaan baik didalam dan diluar lingkungan organisasi.
Tanggung jawab keempatmengupayakan Celebration. Pemimpin yang menghargai kinerja karyawan mulai dari hal yang kecil dan berupaya untuk merayakan sebagai kemenangan bersama.
Tanggung Jawab kelima member Compensation. Pemimpin yang mengupayakan agar karyawan tidak merasa kekurangan terhadap imbalan dan penghargaan yang diterimanya.


THE ACTION PLAN OF A LEADER

Rencana Perbaikan Menuju Lead To Bless Leader
Perubahan selalu dimulai dari adanya keinginan untuk berubah. Keinginan yang kuat akan membentuk kemauan yang kuat, kemauan yang kuat akan melahirkan program perubahan yang kuat dan akhirnya menghasilkan perubahan yang kuat juga.

Membentuk keinginan dan kemauan sehingga melahirkan sesuatu keunggulan yang mendalam akan melewati tiga tahap penting yakni :
1.      Change of Action. Adanya paradigma atau pemikiran baru yang diperoleh dari ineraksi dengan orang lain atau bacaan atau kebutuhan orang lain akan membuat perubahan apa yang selam ini telah dilakukan. Perubahan Paradigma membentuk keinginan untuk melakukan sesuatu yang baru pada dirinya sendiri atau organisasi yang dipimpinnya.
2.      Change of Mind, ketiaka perubahan itu menghasilkan keluaran yang lebih besar dari yang diharapkan maka terjadi perubahan pikiran secara tetap.perubahan bukan sekedar lama atau baru tapi sudah masuk ke daerah baik atau buruk. Perubahan sudah membentuk pola piker baru bukan hnaya pola prilaku yang baru.
3.      Change of Heart, Perubahan yang sudah membentuk karakter organisasi secara keseluruhan yang mengakibatkan pemimpin berubah pada karakternya pula.

Empat langkah menuju ke perbaikan yang berarti
Tahap Acquire, kesadaran bahwa ada sesuatu yang harus diribah. Ada sesuatu yang harus diperbaiki. Ada target dan sasaran baru yang harus dicapai. Ada sesuatu yang baik yang harus dihasilkan
Tahap Apply, kesadaran yang kuat akan membentuk keinginan yang kuat dan melahirkan program untuk melaksanakan apa yang telah dicanangkan.
Tahap Appraise, melakukan evaluasi implikasi dari perubahan itu terhadap pemangku kepentingan yang dijadikan sumber perubahan.
Tahap Align, ketika hasil sudah sesuai dengan target dilakukan dengan aligment secara terstruktur dan sistematik agar perubahan itu menjadi standar baru. Lalu kembali lagi proses berikutnya denagn timbulnya new Awareness.  













BAB 6
CASE STUDY FOR GROUP DISCUSSION
BELAJAR BERSAMA MENUJU LEAD TO BLESS LEADER
Belajar membuat orang mengerti
Berlatih membuat orang mendalami
Berpraktik membuat orang menguasai
Berkreasi dari praktik membuat orang menjadi ahli
Lima langkah yang dapat dilakukan adalah :
1.      Bentuk kelompok kerja bersama untuk saling memperkaya konsep ini dalam lingkup kerja perusahaan masing-masing ini dapat dilakukan dalam satu perusahaan denagn peserta manager dari bidang berbeda atau pimpinan tertinggi perusahaan yang ingin berbagi bersama dalam ‘executive sharing session’.
2.      Baclah seluruh buku secara lengkap terleih dahulu, lalu buat catatan kecil untuk didiskusikan guna memperdalam pengertian dan applikasi di tempat masing-masing.y
3.      Diskusikan Bab V dan sharing-kan apa yang dapat diapplikasikan secara langsung dan apa yang perlu waktu dan apa yang tidak mungkin dilakukan di perusahaan karena berbagai factor.
4.      Diskusikan studi kasus pada bab ini dengan mengacu pada konsep yang ada dalam Bab 1 sampai dengan bab VI serta pengalaman pribadi
5.      Lakukan langkah konkret secara pribadi dan pertajam action plan anda.


STUDY KASUS
AT THE TOP POINT
Ketika sampai dipuncak yang paling tinggi, tidak ada lagi pemandangan diatas, yang ada dalah panorama dibawah, disanalah tempat yang paling baik untuk berpikir, apa yan akan diperbuat untuk yang ada dibawah?

Mencapai puncak adalah impian semua orang. Entah itu puncak kekayaan, prestasi, posisi atau puncak gunung dalam arti harafiah. Semua berlomba mencapai puncak. Dipuncaklah orang sering berpikir tentang kehormtan, kesuksesan, kekayaan, dan kekuasaan yang tak ada bandingannya.

Impian tentang berada diatas puncak membuat banyak orang menghalalkan segala cara untuk mencapainya. Keinginan hanya satu, dipuncak ia bisa melampiaskan segala keinginan tanpa ada orang yang melawannya. Disanalah perkiraan banyak orang tempat bertakhtanya ‘absolut power ‘ dan ‘absolut pleasure yang tak mungkin dirasakan ketika ada di lembah atau lereng. Tunggu, kalau saya jadi presiden, bupati walikota atau presiden direktur, “begitu impian banyak orang.

Motivasi untuk meraih kekuasaan, kekayaan, dan kehormatan bagi dirinya menyebabkan seseorang yang sudah berada dipuncak enggan turun. Jangankan ‘transfer of knowledge’ kalau ada pesaing yang akan muncul yang berpotensi menggesernya akan segera dilakukan politik bumi hangus. Ketakutan lengser membuat membangun berikade tembok yang sebenarnya makin mengucilkan dirinya sendiri. Ia makin tersendiri disana. Ia berada dipuncak kesepian walau bergelimangan segala yang dibutuhkannya. Ini adalah manusia yang terjangkit penyakit At The Top Sickness (ATPS).

Penyakit kronis yang walaupun sudah dipuncak, matanya tetap menengadah keatas. “diatas puncak taysan masih ada puncak Himalaya”. Begitu filosofinya. Jangankan kata puas, ia makin merasa haus seperti meminum air laut.

Kalau pemimpin terjangkit penyakit ini, Ia tak akan pernah memikirkan bawahannya. Pikirannya hanya diri sendiri  dan kolega disekeliling yang terbiasa menjilatnya dan membuatnya terbuai dengan angin puncak. Tak pernah terbayangkan betapa sulitnya para bawahan untuk mendukungnya agar sampai dipuncak Buatnya ‘itu sudah seharusnya’ atau’ mereka sudah dibayar untuk itu. Ia merasa dipuncak karena kompetensi dan kinerjanya sendiri, yang lain hanya disebutnya sebagai ‘suporting unit’

Kalau penyakit ini sudah berubah jadi akut, maka ia akan mudah kalut ketika badai besar melada di puncak. Ia tidak sadar bahwa semakin tinggi, angin juga bertiup semakin kencang. Kalau topan sudah melanda, maka seluruh pendukung dan bawahannya akan berusaha menyelamatkan diri sendiri. “kan Cuma segini bayarannya” atau “ itu tidak termasuk dalam job description”. Senjata makan tuan. Dia menuai apa yang ditanamnya.

Beruntung banyak pemimpin yang tak terkena penyakit ATPS ini. Salah satu tokoh yang melegenda adalag Sir Edmund Hillary dan sekondannya Sherpa Tenzing Norgay. 29 Mei 1953 membuktikan kualitas manusia yang mencapai puncak bukan untuk dirinya sendiri. Bertahun-tahun tertutup rapat siapa yang pertama kali menginjakan kaki ke puncak, agar tidak menimbulkan polemic, sejarah mencatat keduanya sebagai dwi tunggal penakluk Everest yang pertama.

Petinggi yang terjangkiti ‘Sir Edmund Hillary Spirit (SEHS), akan mengubah komunitas dan bahkan negara secara dramatisdan revolusioner. Ia ingin berada di puncak untuk menyejahterakan  yang ada di lereng atau lembah. Ia mampu melihat peluang untuk tampil dan berkonribusi buat pendukungnya. Tidak terpikirkan konsep “return on investment” atas biaya pilkada yang mencekik lehernya.

Kalau ini ang dipikirkan, pilkada menjadi semakin asyik. Bukan adu janji tapi adu bukti. Bukan pamer promosi tapi pamer prestasi. Semoga SEHS ini menjangkiti organisasi, bahkan komunitas dan negara kita. Hanya waktu kita akan merasakan negara yang ‘adil dan makmur serta’gemah ripah loh jinawi’. Ini bukan mimpi. Selamat dating “Sir”.  


Sumber : Paulus Bambang WS, ed.Reyandra L.Toruan, Lead To Bless” Leader:  Kepemimpinan yang Menjamin Perusahaan Sejahtera dan Karyawan Bahagia, PT Elex Media Komputindo, Jakarta, 2012.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...