Tampilkan postingan dengan label Resume Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resume Buku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Mei 2014

RESUME :"THE ODESSA FILE"


Holocaust mungkin salah satu peristiwa besar dalam sejarah dunia yang paling banyak dibukukan. Dari kisah nyata hingga ke fiksi sejarah, ada begitu banyak buku yang telah terbit mengenai peristiwa kemanusiaan itu. Frederick Forsyth--penulis novel thriller politik pun tak ketinggalan mengangkat tema Nazi dan Holocaust ke dalam buku ini: The Odessa File.

Odessa dan SS

ODESSA (Organisation der ehemaligen SS-Angehörigen = organisasi mantan anggota SS)  SS (Schutz-Staffel = negara di dalam negara yang diciptakan Hitler di bawah Nazi, Jerman)  Singkatnya, anggota SS adalah mereka yang berkuasa pada jaman Nazi, termasuk para pemimpin kamp-kamp konsentrasi yang memusnahkan kaum Yahudi.
Fakta setelah Jerman dikalahkan Sekutu pada akhir Perang Dunia II (1945), banyak anggota SS yang ketakutan akan diadili dan dihukum sebagai penjahat perang. Mereka ini semburat melarikan diri ke negara-negara lain (Mesir, Argentina), mengganti identitas, dan menghilang begitu saja. Odessa didirikan untuk melindungi para mantan anggota SS ini, memfasilitasi agar mereka tak pernah ditemukan dan aman dari hukuman. Sekaligus, Odessa menanamkan konsep bahwa Holocaust adalah tindakan patriotik para mantan anggota SS itu.

Proyek Roket Mesir

[Fakta] Seperti kita tahu, Mesir adalah musuh bebuyutan Israel. Pada sekitar tahun 60-an, ketika Mesir dipimpin oleh Raja Farouk, mereka memulai proyek membangun roket pemusnah yang rencananya akan dipakai untuk memusnahkan Israel. Roket itu dibangun di negara Mesir, namun menggunakan ilmuwan-ilmuwan dari Jerman. Ketika rencana ini tercium oleh Israel, teror pun dialami oleh para ilmuwan Jerman itu. Diantaranya Prof. Wolfgang Pilz, yang mendapat kiriman sebuah bom yang kemudian meledak, dan merusak wajah sekretaris Pilz yang membukanya. ~Encyclopedia Astronautica. [Fiktif] Dalam buku ini, perekrutan ilmuwan Jerman untuk Mesir itu dilakukan oleh Odessa.

Pembunuhan John F. Kennedy

Pada Tgal  22 November 1963 terjadi salah satu peristiwa menggemparkan, yaitu meninggalnya Presiden AS John F. Kennedy setelah tertembak ketika menaiki mobil. Meski kenyataannya hingga kini dalang di balik pembunuhan itu tak pernah terungkap, [Fiktif] versi buku ini mengaitkan pembunuhan Kennedy dengan Odessa. Dikisahkan Kennedy ngotot menekan Jerman untuk mengirimkan persenjataan ke Israel sebagai bagian dari kompensasi terhadap Israel. Karena pemimpin Jerman saat itu lemah, khawatir Amerika akan berhasil menekan Jerman, maka Odessa pun menghalangi pengiriman senjata itu dengan membunuh Kennedy.

The Odessa File (kisah fiksi di dalam bingkai sejarah)
Tokoh utama kisah ini adalah seorang wartawan berkebangsaan Jerman bernama Peter Miller. Pada hari ketika JFK terbunuh itu, ia sedang berkendara di atas Jaguar XK 150 S warna hitam dengan garis kuningnya, ketika tiba-tiba ada mobil ambulans meraung-raungkan sirenenya. Insting jurnalisnya langsung menyuruh ia membuntuti ambulans itu, karena siapa tahu ada peristiwa kebakaran atau kecelakaan yang patut diliput sebagai berita menarik? Miller tak sadar bahwa keputusannya saat itu akan mengubah seluruh hidupnya!
Ternyata hanya seorang pria renta yang bunuh diri dengan gas di apartemen kumuh; suatu peristiwa yang tak menarik siapa pun! Maka pulanglah Miller ke apartemennya, dan ke pelukan Sigi, kekasihnya yang seorang penari striptis. Namun esok paginya, polisi teman lama Miller datang dan membawakan sebuah buku harian milik si pria renta yang bunuh diri itu. Meski tak terlalu antusias, Miller membacanya sampai habis.
Namaku Salomon Tauber. Aku seorang Yahudi, dan akan segera mati.” Begitulah buku harian itu dimulai. Singkat kata, Mr. Tauber adalah salah satu keturunan Yahudi-Jerman yang berhasil selamat dari Holocaust, dari kamp konsentrasi di Riga yang konon telah memusnahkan 70.000-80.000 jiwa. [Fakta] *Komandan ghetto di Riga adalah anggota SS: Eduard Roschmann, yang terkenal dengan julukan ‘Jagal dari Riga’ berkat kekejamannya.* Sungguh menguras emosi membaca pengalaman dan pengamatan Tauber selama ia berada di Riga, khususnya sepak terjang Roschmann. Saat itu Tauber hampir putus asa karena penderitaan. Namun suatu hari ada seorang wanita yang, ketika sekarat, meminta agar Tauber tetap bertahan hidup demi menceritakan kepada dunia kekejian Nazi terhadap kaum Yahudi, bila kelak ia bebas. Itulah yang membuat tekad Tauber membara. Ia tak boleh mati! Ia harus dapat menggiring Roschmann hingga ke pengadilan untuk membayar nyawa orang-orang tak bersalah yang telah ia bantai.

                                              
                     wajah Eduard Roschmann, si Jagal dari Riga

Satu-satunya cara untuk tetap hidup adalah dengan menjadi Kapo (polisi Yahudi) yang bertugas membantu Nazi membawa tawanan ke tempat kerja atau bahkan ke tempat hukuman mati. Tauber mengambil resiko dikucilkan oleh teman-teman sesama Yahudinya demi bisa tetap hidup dan menceritakan kisahnya. Hingga suatu hari Tauber dipaksa Roschmann untuk menyerahkan Esther, istri tercintanya sendiri ke gerbong yang akan membawanya kepada hukuman mati!
Setelah menutup buku harian itu, Miller sekarang bukanlah Miller yang dulu. Ada sesuatu yang terjadi berkenaan dengan buku harian itu, yang akhirnya membulatkan tekadnya untuk menelusuri jejak Roschmann. Upaya yang tidak gampang, bahkan hampir mustahil. Karena, seperti telah kuulas di atas, para mantan SS ini telah berganti nama dan dilindungi Odessa. Berkali-kali upaya Miller mengalami jalan buntu, hingga ia bertemu dengan [Fakta] *seorang penyelidik kejahatan perang bernama Simon Wiesenthal* yang untuk pertama kalinya memperkenalkan organisasi Odessa kepada Miller. Tampaknya tak ada cara lain untuk menemukan keberadaan Roschmann, selain dengan menyusup ke dalam tubuh Odessa sendiri!

Lalu tiba-tiba saja sebuah organisasi bawah tanah Yahudi menawarkan untuk membantu Miller masuk ke Odessa. Kelompok ini ingin menyusupkan orang ke Odessa demi mendapatkan identitas para pelarian SS, untuk melenyapkan mereka. Mulailah penyamaran dipersiapkan, data dimanipulasi, paspor palsu disiapkan, informasi tentang identitas dan kebiasaan anggota Odessa dijejalkan ke otak Miller. Dan dalam waktu beberapa minggu, siaplah Herr Kolb (identitas baru Miller) memasuki jaringan Odessa, meski resikonya bila ketahuan adalah kematian.

Berhasilkah Miller dalam penyamarannya? Berhasilkah ia menemukan Roschmann? Dan apa sebenarnya lotif Miller mengambil resiko sedemikian besar untuk menemukan Roschmann? Semuanya akan terungkap setelah anda diajak Frederick Forsyth melalui serangkaian ketegangan khas thriller bertema politik dan konspirasi.

Tragedi kemanusiaan

Kali ini aku merasa diajak Frederick Forsyth memandang Holocaust dari sisi yang agak berbeda. Bukan melulu aspek manusiawi dan moral dari sisi kaum Yahudi saja, tapi justru dari sisi orang Jerman. Menurutku dengan melakukan Holocaust, Hitler sama-sama membawa kerugian bagi orang Yahudi maupun bagi bangsanya sendiri. Orang Yahudi kehilangan warganya, namun bangsa Jerman harus memikul dosa Nazi hingga ke generasi berikut(berikut)nya, meski mereka tidak ikut melakukan genosida, bahkan masih kecil atau belum lahir saat hal itu terjadi.

Lihat saja potongan pengalaman pahit Miller sendiri: “..di gereja Sacré Coeur…baru saja selesai upacara memperingati (kematian) seseorang. Beberapa orang keluar dan mereka mendengarkan aku berbicara bahasa Jerman dengan anak-anak lain. Seseorang di antara orang-orang itu berpaling dan meludahiku…. Apakah Ibu tahu apa yang telah diperbuat atas diri orang itu sebelum dia mati? Bukan oleh Ibu, Ayah atau aku, tapi oleh kita orang-orang Jerman, atau tepatnya Gestapo yang menurut jutaan orang sama saja. Aku diludahi bukan karena aku Gestapo, tapi karena aku seorang Jerman.” ~hlm. 136-137.
                                                                                                
Pertanyaan yang mau tak mau juga mengemuka, apakah Holocaust itu dosa Nazi saja, atau dosa kolektif bangsa Jerman? Pertanyaan itu terjawab di buku ini: “..sebelum Hitler memulai, tidak seorang pun di Jerman yang membenci Yahudi. …Kemudian Hitler memulainya. Dia meyakinkan rakyat bahwa Yahudi lah yang bersalah menyebabkan Perang Dunia I. …Rakyat tidak tahu apa yang mesti dipercaya. Rakyat mempunyai kawan-kawan Yahudi, majikan-majikan Yahudi yang baik. ...ketika gerbong-gerbong itu datang dan membawa mereka pergi, rakyat tidak berbuat apa-apa. Mereka menyingkir, mereka diam. …Karena begitulah sifat manusia, terutama orang Jerman. Kita bangsa yang patuh. Inilah kekuatan kita, tapi juga kelemahan kita yang paling besar...ini yang membuat kita tunduk mengikuti orang seperti Hitler menuju jurang yang paling dalam.” ~hlm. 144-145.

Aku memberikan empat setengah bintang untuk buku ini. Boleh-boleh saja orang menyebut The Day of The Jackal sebagai karya terbaik Forsyth, menurutku memang begitu. Jackal nyaris sempurna sebagai karya tulis. Namun aku pribadi lebih menyukai pribadi Peter Miller yang lebih manusiawi ketimbang Jackal yang sempurna. Yang lebih aku sukai lagi adalah muatan emosional di kisah ini. The Odessa File bukan hanya menstimulasi logika (dan jantung) anda, namun ia juga akan membawa anda untuk sedikit merenung selama membaca buku ini.

Akhirnya, peristiwa holocaust memang telah menorehkan luka yang dalam bagi kemanusiaan di dunia, namun dari situ kita semua tentu juga belajar dari semua kekuatan maupun kelemahan pihak-pihak yang terlibat.
Kelebihan dan Kelemahan 
a.      Kelebihan
            Buku ini mengungkapkan tentang kisah tentang kemampuan pangliam Nazi mampu mempersatukan   organisasi negara-negara  kecil yang dibentuk dalam negara yahudi sebagai basis perjuangan untuk mengadudomba antar kaum yahudi di negara yahudi, persatuan negara-negara kecil itu dikenal dengan SS(Schutz-Staffel)  kedalam satu organisasi  yang bernama Odessa(organisastion der ehemaligen ssagehorigen), tujuannya untuk menampung semua orgnisasi negara kecil tersebut.  Strategi ini untuk memperpanjang kekuatan penjajahan nazi. 
Sejarah telah mencatat kekekejaman jerman pada saat prang Nazi,  Perang nazi adalah contoh kekejaman dalam penjajahan perang,  penjajahan dan  peperangan yang banyak membawa korbana ummat manusia, pada penjajahan ini  korban terbanyak adalah kaum yahudi, yang dijadikan sebagai wilayah jajahan.
            Kesuksesan yang dikaukan oleh prang nazi dengan membuat negara kecil dalam negara,  kemudian negara-negara tersebut dibenturkan antara satu dengan  yang lain sehingga terjadi peperangan antar negara kecil, dan ini adalah strategi  nazi untuk mudah menjajah.
            Fakta menunjukkan kemampuan nazi melakukan penjajahan dengan strategi yang ampuh dan politik perang yang licik membuat negara yahudi menjadi lemah untuk dijajah, masyarakaytnya dijadikan sebagai pekerja paksa dan banyak yang dibutuh, pembunuhan ini sangat diikrnal dengan kekejaman nazi,  penjajahan ini mampu membunuh ribuan manusia yang dianggap sangat keji dalam sejarah peperangan di dunia.
            Kerapuhan oerganisasi perang ahirnya nazi kalah pada prang dunia kedua, dan membawa nazi dalam mahkamah internasional sebagai penjahat perang, petinggi militer nazi dapat dihukum mati dan dipenjarakan sebagai resiko dalam sebuah perjuangan perang.
            Salah satu aspek penting adalah kemampuan intelejen untuk mengetahui  rencana rahasia Mesir untuk membuat roket pemusnah masal yang akan menghancurkan Israel, dan pada ahirnya digagalkan, data ini dianggap sebuat temuan besar dalam mengungkap rencana kejahatan pemusnahan manusia dimuka bumi. Kemampuan mendapatkan data tentang cara menggagalkan rencana pembuatan roket pemusnah masal, merupakan satu prestasi yang patut diberi penghargaan, karena sangat sulit mendapatkan data tersebut.
            Data terungkap seperti pada tulisan yang mengatakan bahwa ketika Mesir dipimpin oleh Raja Farouk, mereka memulai proyek membangun roket pemusnah yang rencananya akan dipakai untuk memusnahkan Israel. Roket itu dibangun di negara Mesir, namun menggunakan ilmuwan-ilmuwan dari Jerman. Ketika rencana ini tercium oleh Israel, teror pun dialami oleh para ilmuwan Jerman itu.
b.        Kelemahannya.
Tulisan ini sangat menonjolkan kekerasan dalam bentuk kekejaman perang, akan menimbulkan kesan kekerasan dan kekejaman,   menimbulkan antipatik dan dendam yang sangat luarbiasa terutama dikalangan kaum yahudi dan nasrani.
Penekanan sejarah perang dengan  pengeorbanan dan kekalahan menjadikan manusia membuat strategi baru  dlam melakukan gerak kehidupan, baik dalam konteks posetif maupun negatif. Kekalahan nazi sebagai  peristiwa posetif dalam peperangan, kerena dapat membebaskan  negara dan umat yahudi di Israil. Namun dibalik itu membawa dampak negatif  adanya pembunuhan karakter yang  membuat orang tidak berdaya dalam mencermati sejarah kehidupan masa lalu.
 Yahudi adalah  kaum yang sangat baik menurut sejarah,  sebelum Hitler memulai, tidak seorang pun di Jerman yang membenci Yahudi. …Kemudian Hitler memulainya. Dia meyakinkan rakyat bahwa Yahudi lah yang bersalah menyebabkan Perang Dunia I Rakyat tidak tahu apa yang mesti dipercaya. Rakyat mempunyai kawan-kawan Yahudi, majikan-majikan Yahudi yang baik. ketika gerbong-gerbong itu datang dan membawa mereka pergi, rakyat tidak berbuat apa-apa. Mereka menyingkir, mereka diam.Karena begitulah sifat manusia, terutama orang Jerman. Kita bangsa yang patuh. Inilah kekuatan kita, tapi juga kelemahan kita yang paling besar...ini yang membuat kita tunduk mengikuti orang seperti Hitler menuju jurang yang paling dalam.


 Sumber :

The Odessa File, Frederick Forsyth, terj.Ranina B. Kunto, Serambi, Penyunting: Adi Toha, Jakarta,November 2011.

Sabtu, 13 Agustus 2011

Who Moved My Cheese


Bagian Dari Diri Kita

Si Sederhana dan Si Rumit

Empat tokoh imajiner yang ada dalam cerita ini – si tikus; ” Sniff(Endus) dan ”Scurry(Lacak) dan si kurcaci; ”Hem(Kaku) dan ”Haw(Aman) – dimaksudkan untuk mewakili bagian dari diri kita, baik yang sederhana maupun yang rumit, tanpa membedakan usia, jenis kelamin, ras dan kebangsaan.

Kadang kita bertindak seperti Sniff yang mampu mencium adanya perubahan dengan cepat, atau Scurry Yang segera bergegas mengambil tindakan, atau Hem, yang menolak serta mengingkari adanya perubahan karena takut perubahan akan mendatangkan sesuatu yang buruk, atau Haw, yang baru mencoba beradaptasi jika ia melihat perubahan mendatangkan sesuatu yang lebih baik! Bagian dari mana pun yang kita pilih, kita mempunyai ciri yang sama; kebutuhan untuk menemukan jalan dalam labirin, dan sukses mengatasi perubahan yang kita hadapi.

Kisah di balik cerita

”Who Moved My Cheese?”
Adalah kisah tentang perubahan yang terjadi dalam sebuah Labirin di mana empat tokoh sangat menarik pergi mencari ”Cheese”. Cheese di sini adalah perumpamaan akan hal-hal yang kita inginkan di dalam hidup ini, baik pekerjaan, hubungan baik, uang, pengakuan, ketentraman batin, atau bahkan kegiatan seperti lari pagi, atau golf.

Kita masing-masing mempunyai ide sendiri tentang Cheese tersebut, dan kita mengejarnya karena kita yakin hal itu akan membuat kita bahagia. Jika kita mendapatkannya, kita sering menjadi terikat. Dan jika hal tersebut hilang atau disingkirkan, bisa menjadi hal yang traumatis bagi kita.

”Labirin” mewakili tempat di mana Anda menghabiskan waktu untuk mendapatkan apa yang Anda inginkan. Bisa jadi berupa perusahaan di mana Anda bekerja, lingkungan masyarakat Anda tinggal, atau hubungan baik yang telah Anda bina sampai saat ini.

Suatu ketika di Zaman dulu, hidup empat tokoh yang berlarian di dalam Labirin mencari cheese untuk kesejahteraan dan kebahagiaan mereka.

Dua diantaranya adalah tikus yang bernama ”Sniff” dan ”Scurry”, dua lainnya adalah kurcaci sebesar tikus yang berpenampilan dan bertingkah laku sama seperti manusia pada saat ini. Namanya adalah ”Hem” dan ”Haw”.

Karena ukuran mereka yang kecil, dengan mudah terlewatkan apa yang sedang mereka lakukan. Namun jika kita lihat lebih dekat, Anda akan menemukan hal yang sangat luar biasa!

Tikus-tikus, Sniff dan Scurry, menggunakan metode Trial and Error dalam mencari cheese. Mereka berlari ke satu lorong dan jika ternyata kosong, mereka akan berbalik dan mulai mencari di lorong yang lain. Mereka mengingat lorong mana saja yang tidak menyimpan cheese dan dengan cepat pindah ke daerah lain.

Sementara itu kedua kurcaci, Hem dan Haw, menggunakan otak mereka, yang di penuhi dengan berbagai dogma dan emosi, mencari Cheese yang berbeda – yaitu Cheese dengan C besar – yang mereka percaya sebagai pembawa kebahagiaan dan kesuksesan.

Sama seperti tikus, kedua kurcaci, Hem dan Haw, juga menggunakan kemampuan berfikir dan belajar dari kemampuan mereka. Namun mereka bergantung pada otak mereka yang kompleks dalam mengembangkan metode menemukan cheese.

Kadang mereka berhasil, namun seringkali kepercayaan dan emosi manusiawi mereka yang kuat mengambil alih dan mengaburkan cara mereka melihat suatu permasalahan. Hal itu menyebabkan hidup di labirin menjadi semakin rumit dan penuh tantangan.

Walupun begitu mereka semua, Sniff, Scurry, Hem, dan Haw menemukan cara masing-masing dalam mencari apa yang mereka inginkan. Pada suatu hari, mereka menemukan cheese kesukaan mereka di salah satu ujung lorong Cheese Station C.

Sniff dan Scurry tetap dengan kebiasaan bangun pagi mereka dan langsung berlari ke dalam labirin, dan selalu mengikuti rute yang sama begitu sampai di tujuan, kemudian mereka menikmati cheese.

Namun Hem dan Haw bangun sedikit lebih siang, berpakaian sedikit lebih lama, dan kemudian baru berjalan ke Cheese Station C. Sekarang mereka sudah tahu di mana letak Cheese Station C dan jalan menuju ke sana.

Mereka tidak tahu dari mana datangnya Cheese itu dan siapa yang menempatkannya di sana. Mereka hanya berasumsi bahwa Cheese itu pasti ada di sana.

Supaya lebih nyaman, Hem dan Haw menghias dinding-dinding tempat itu dengan berbagai pepatah bahkan menggambar gambar Cheese di sekelilingnya yang membuat mereka tersenyum. Salah satunya tertulis: Hal ini berjalan sampai beberapa saat.

Dalam waktu singkat keyakinan Hem dan Haw pun berubah menjadi kesombongan akan keberhasilan mereka. Segera mereka terjebak dalam kenyamanan sehingga tidak menyadari apa yang sedang terjadi.

Suatu pagi di Cheese Station C dan melihat tidak ada lagi cheese di sana, akan tetapi bagi Sniff dan Scurry itu sama sekali tidak membuat mereka heran, karena mereka sudah memperhatikan bahwa simpanan cheese tersebut semakin hari semakin menipis belakangan ini. Mereka sudah siap dengan keadaan ini, dan secara insting tahu apa yang harus mereka lakukan

Tikus tidak melakukan analisis yang berlebihan. Bagi tikus, masalah dan pemecahannya sama sederhananya. Situasi di Cheese Station C sudah berubah. Maka Sniff dan Scurry memutuskan untuk berubah juga.

Dengan cepat mereka berangkat untuk menemukan Cheese baru. Sementara Sniff dan Scurry bergerak dengan cepat, Hem dan Haw hanya mengomel dan termenung-termenung saja.

Demikianlah cerita yang telah saya rangkum karena cerita yang sebenarnya masih sangat panjang, tetapi walaupun hanya sepenggal ceritanya tapi kita akan menemukan bahwa kedua ekor tikus lebih bisa menghadapi perubahan yang terjadi, karena mereka tidak memperumit permasalahan. Sedangkan kedua otak canggih dan emosi manusiawi para kurcaci mempersulit keadaan yang ada. Hal ini bukan karena tikus lebih pintar dari manusia. Kita semua tahu bahwa manusia jauh lebih cerdas di banding tikus.

Namun demikian, saat Anda memperhatikan apa yang dilakukan oleh keempat tokoh tersebut, dan menyadari bahwa keempatnya mewakili bagian dari diri kita – yang sederhana dan rumit – Anda akan setuju bahwa kita akan lebih beruntung jika kita bertindak secara sederhana dalam menhadapi perubahan.

Sumber :
Spencer Johnson M.D,  Who Moved My Cheese,  PT Elex Media Komputindo, Jakarta, 200, 104 halaman.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...