Minggu, 14 Februari 2010

BIOGRAFI AL-FAROBI

A.LATAR BELAKANG AL-FARABI
Abu Nashr Muhammad ibn Tasrkhan ibn Al-Uzalagh Al-Farabi lahir di Wasij di Distrik Farab (yang juga dikenal dengan nama Utrar) di Transoxiana, sekitar tahun 870 M dan wafat di Damaskus pada tahun 950 M.
Ayahnya adalah seorang opsir tentara keturunan Persia (kendatipun nama kakek dan kakek buyutnya jelas menunjukkan nama Turki) yang mengabdi kepada pengeran-pangeran Dinasti Samaniyyah. Barangkali masuknya keluarga ini ke dalam islam terjadi pada masa hidup kakeknya, Tarkhan. Peristiwa ini kira-kira terjadi bersamaan dengan peristiwa penaklukan dan Islamisasi atas Farab oleh Dinasti Samaniyyah pada 839-840 M.[1] Kenyataannya bahwa Al-Farabi putra seorang militer yang cukup penting. Karena hal ini memisahkan dirinya dari filosof-filosof islam abad pertengahan lainnya. Tak seperti Ibn Sina, ayah Ibn Sina bekerja dalam birokrasi Samaniyyah atau Al-Kindi, ayahnya adalah Gubernur Kufah. Al-Farabi tidak termasuk dalam kelas katib, suatu kelas yang memainkan peranan administratif yang besar bagi pengusaha penguasa-penguasa Abbasiyyah beserta satelit-satelit mereka.
B.PENDIDIKAN AL-FARABI
Al-Farabi belajar ilmu-ilmu Islam di Bukhara. Sebelum diciptakan system madrasah di bawah Seljuq, menuntut ilmu berlangsung di lingkungan-lingkungan pengajaran yang diadakan oleh berbagai individu, baik dirumah mereka maupun di masjid. Selain itu berbagai individu maupun barbagai istana di seluruh empirium yang mempunyai perpustakaan besar. Perpustakaan-perpustakaan ini menyambut hangat para para pakar yang hendak melakukan studi. Ada dikotomi tertentu antara ilmu-ilmu Islam seperti tafsir, hadist, fiqih serta ushul ( prinsip-prinsip dan sumber-sumber agama) dan studi tambahannya seperti studi bahasa Arab dan kesusastraan dan apa yang disebut ilmu-ilmu asing. Yaitu ilmu-ilmu Yunani yang memasuki dunia Islam melalui penerjemahan oleh orang-orang Kristen Nestorian seperti Hunain Ibn Ishaq (w. 873 M) dan mazhabnya. Lembaga pendidikan pada awalnya bersifat tradisional, yang mendapatkan dukungan financial dari wakaf, sedangkan ilmu-ilmu rasional biasanya diajarkan dirumah atau di Dar Al-Ilm’.[2]
Setelah mendapatkan pendidikan awal Al-Farabi kemudian pergi ke Marw. Di Marw inilah Al-Farabi belajar ilmu logika kepada orang Kristen Nestorian yang berbahasa Suryani yaitu bahasa Yuhanna Ibn Hailan.
Pada masa kekhalifan Al-Mu’tadid (892-902 M), baik Yuhanna Ibn Hailan maupun Al-Farabi pergi ke Baghdad. Al-Farabi unggul dalam ilmu logika, selanjutnya dia banyak memberikan sumbangsihnya dalam penempaan sebuah bahasa filsafat baru dalam bahasa Arab, meskipun menyadari perbedaan antara tata bahasa Yunani dan Arab.
Pada kekhalifaan Al-Muktafi (902-908 M) atau pada tahun-tahun kakhalifahan Al-Muqtadir (908-932 M) Al-Farabi dan Hailan meniggalkan Baghdad, semula menurut Ibn Khallikan menuju Harran. Dari Baghdad tampaknya Al-Farabi pergi ke Konstantinopel. Di Konstantinopel ini, menurut suatu sumber dia tinggal selama delapan tahun mempelajari seluruh silabus filsafat.
C.KARIER AL-FARABI
Antara 910 dan 920, Al-Farabi kembali ke Baghdad untuk mengajar dan menulis, reputasinya sedemikian rupa sehingga dia mendapatkan sebutan sebagai “guru kedua” (Aristoteles mendapatkan sebutan sebagai “guru pertama” ). Pada zamannya Al-Farabi dikenal sebagai ahli logika. Menurut berita, Al-Farabi juga “membaca” (barangkali mengajar) Physics-nya Aristoteles empat puluh kali, dan Rethoric-nya Aristoteles dua ratus kali. Ibnu Khallikan mencatat bahwa tertulis dalam satu Copy De Anima-nya Aristoteles yang berada ditangan Al-Farobi, pernyataannya bahwa dia telah membaca buku ini seratus kali.
Murid-murid Al-Farabi sendiri yang disebutkan namanya hanyalah teolog sekaligus filosof Jacobite[3] Yahya ibn ‘Adi (w. 975) dan saudara yahya yaitu Ibrahim. Yahya sendiri menjadi guru logika terkemuka :” sebenarnya separo jumlah ahli logika Arab pada abad kesepuluh adalah muridnya”.[4]
Pada tahun 942 M situasi di ibu kota dengan cepat semakin buruk karena adanya pemberontakan yang dipimpin seorang mantan kolektor pajak Al-Baridi, kelaparan dan wabah merajalela. Khalifah Al-Muttaqi sendiri meninggalkan Baghdad untuk berlindung di Istana pangeran Hamdaniyyah, Hasan (yang kemudian mendapat sebutan kehormatan Nashr Al-Daulah) di Mosul. Saudara Nashir, Ali bertemu khalifah di Tarkit. Ali memberi khalifah makanan dan uang agar khalifah dapat sampai di Mosul. Kedua saudara Hamdaniyyah ini kemudian kembali bersama khalifah ke Baghdad untuk mengatasi pemberontakan. Sebagai rasa terimakasih khalifah menganugerahi Ali gelar Saif Al-Daulah.
Al-Farabi sendiri merasa akan lebih baik pergi ke Suriah. Menurut Ibn Abi Usaibi’ah dan Al-Qifti Al-Farabi pergi ke Suria pada tahun 942 M. Menurut Ibn Abi Usaibi’ah di Damaskus Al-Farabi bekerja di siang hari sebagai tukang kebun dan pada malam hari belajar teks-teks filsafat dengan memakai lampu jaga. Al-Farabi terkenal sangat shaleh dan zuhud. Al-Farabi tidak begitu memperhatikan hal-hal dunia. Menurut Ibn Abi Usaibi’ah, Al-Farabi membawa manuskripnya yang berjudul Al-Madinah Al-Fadhilah, manuskrip ini mulai ditulisnya di Baghdad ke Damaskus. Di Damaskus inilah manuskrip tersebut diselesaikannya pada tahun 942/3 M.
Sekitar masa inilah Al-Farabi setidak-tidaknya melakukan suatu perjalanan ke Mesir (Ibn Usaibi’ah menyebutkan tanggalnya yaitu 338 H, setahun sebelum Al-Farabi wafat) yang pada saat itu diperintah oleh Ikhsyidiyyah. Ikhsyidiyyah ini semula dibentuk oleh opsir-opsir tentara Farghanah di Asia tengah. Menurut Ibn Khallikan di Mesir inilah Al-Farabi menyelesaikan Siyasah Al-Madaniyyah yang dimulai ditulisnya di Baghdad.
Setelah meninggalkan Mesir Al-Farabi bergabung dengan lingkungan cemerlang filosof, penyair, dan sebagainya yang berada disekitar pangeran Hamdaniyyah yang bernama Saif Al-Daulah. Menurut Ibn Abi Usaibi’ah disinilah Al-Farabi mendapatkan gaji kecil yaitu empat dirham perak sehari. Ibn Khallikan menuturkan kisah yang menawan (barangkali fantastis) tentang diterimanya Al-Farabi di Istana Al-Daulah, kendatipun Al-Farabi mengenakan pakaian Turki yang aneh (yang menurut Ibn Kallikan pakaian yang seperti ini selalu dikenakan oleh Al-Farabi) dan juga berprilaku aneh. Al-Farabi membuktikan pengetahuannya dalam berbagi bahasa (menurut Ibnu Khallikan, Al-Farabi mengaku mengetahui lebih dari tujuh puluh bahasa) maupun bakat musiknya yang luar biasa. Al-Farabi berhasil membuat para hadirin tertawa, kemudian menangis, kemudian tertidur pulas. Meskipun kebenaran ini diragukan banyak informasi mengenai dijumpainya jenis ilmu pengetahuan musik seperti ini di negeri-negeri timur.
Al-Farabi wafat di Damaskus pada tahun 950 M, usianya pada saat itu sekitar 80 tahun. Ada satu legenda di kemudian hari yang tidak terdapat dalam sumber awal dan karena itu diragukan bahwa Al-Farabi dibunuh oleh pembegal-pembegal jalan setelah berani mempertahankan diri. Al-Qifti mengatakan bahwa Al-Farabi meninggal ketika perjalanan ke Damaskus bersama Saif Al-Daulah. Menurut informasi Saif Al-Daulah dan beberapa anggota lainnya melakukan upacara pemakanan.
D.KARYA-KARYA AL-FAROBI
Karya-karya nyata dari Al-Farabiadalah :
1. Al Jami’u Baina Ra’ya Al Hakimain Al falatoni Al Hahiy wa Aristho-thails (pertemuan atau penggabungan pandapat antara Plato dan Aristoteles).
2. Tahsilu as Sa’adah ( mencari kebahagian).
3. As Suyasatu Al Madinah (politik pemerintahan).
4. Fususu Al Taram (hakekat kebenaran)
5. Arroo’u Ahli Al Madinah Al Fadilah (pemikiran-pemikiran utama pemerintahan).
6. As Syiyasyah (ilmu politik)
7. Fi Ma’ani Al Aqli.
8. Ihsho’u Al Ulum (kumpulan berbagai ilmu).
9. At Tangibu ala As Sa’adah.
10. Isabetu Al Mufaraqaat.
11. Upaya-upaya untuk menyebarluaskan pemikiran-pemikiran Al-Farabi, maka kitab-kitabnya banyak diterjemahkan ke dalam bahas Latin, Inggris, Almania, bahasa Arab dan Prancis. Adapun karya yang pertama Al-Farabi yaitu Isho’u Al Ulum membahas tentang ilmu dancabangnya. Sebagaimana didalamnya memuat ilmu-ilmu bahasa, ilmu matematika, ilmu logika, ilmu ketuhanan ilmu musik, ilmu astronomi, ilmu perkotaan, ilmu fiqh, ilmu fisika, ilmu mekanika dan ilmu kalam. Ilmu tersebut yang mendapat perhatian besar oleh Al-Farabi adalah ilmu fiqh dan ilmu kalam. Sedangkan ilmu mantiq membahas delapan ilmu bagian yaitu:
A.
1. Al Maqulaat Al Asyr (kategori)
2. Al Ibarat (ibarat).
3. Al Qiyas (analogi)
4. Al Burhan (argumentasi)
5. Al Mawadi Al Jadaliyah (the topics).
6. Al Hikmatu Mumawahan (sofistika)
7. Al Hithobah (ilmu pidato).
8. Al Syi’ir (puisi)






DAFTAR PUSTAKA

Fahkry, Majid, 2001,Sejarah Filsafat Islam, Bandung: Mizan.
Musthofa, Ahmad. 1997. Filsafat Islam. Bandung: CV. PUSTAKA SETIA
[1] Mahdi, Muhsin, “ Al-Farabi”, Dictionar y ofScientic Biography, ed.C.C.Oillispie, New York : 1971, h.523.
[2] Makdisi, George, The Rise of Colleges : Institution of learning in Islam and the west, Edinburgh: 1981,h.79.
[3] Rescher, Nicholas, Studies in the History of Arabic Logic,Pittsburgh, 1963, h. 15.
[4] Galston, Miriam, Politic and Exellence:The Politic Philosophy of Al-Farabi, Printon: 1990, h. 15, catatan 15.
[5] Drs. H. Mustofa, Filsafat Islam, h.128.
[6] Drs. H. Mustofa, Filsafat Islam, h.128.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan masukan komentar Anda

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...