Selasa, 18 Oktober 2011

Pedoman manajemen resiko


Risiko telah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Sejak hidup di muka bumi, manusia dihadapkan pada berbagau resiko. Manusia purba misalnya, menghadapi resiko yang berasal dari alam, seperti ancaman binatang buas, kondisi lingkungan alam yang ganas dan bencana yang mengancam.

Menurut seorang pujangga Henry W. Longfellow ( 1807-1882 ), sukses hanya akan dicapai oleh orang yang berani mengmbil risikoKarena itumau tidak mau, setiap orang harus mengambil resiko yang ada dalam hidupnya. Hanya mereka yang berani menghadapi resiko yang akan bertahan hidup.

Manajemen resiko adalh bagian semtral dalam setiap aspek kehidupan. Banyak orang yang tidak menyadari dalam kehidupan sehari-hari mereka telah menjalankan konsep manajemen risiko

Manfaat Manajemen Resiko 
Dengan melaksanakan manajemen risiko diperoleh berbagai manfaat antara lain
  1. Menjamin kelangsungan usaha dengan mengurangi risiko dari setiap kegiatan yang mengandung bahaya
  2. Menekan biaya untuk penanggulangan kejadian yang tidak diinginkan.
  3. Menimbilkan rasa aman dikalangan pemegang saham mengenai kelangsungan dan keamanan investasinya.Meningkatkan pemahaman dan kesadaran mengenai risiko operasi bagi setiap unsure dalm organisasi/perusahaan. 
  4. Memenuhi persyaratan perundangan yang berlaku.
Perkembangan Manajemen Risiko dalam Perusahaan
Menurut Peter Drucker, prinsip bisnis yang baik adalah dengan membuat perencanaan sebaik mungkin, namun juga bersiap menghadapi kondisi terburuk. “Prepare for the best, but prepare for the worst”. Setiap pengusaha pasti menginginkan keuntungan, apapun usaha yang dilakukannya. Namun demikian, mereka juga harus bersiap untuk menghadapi kemungkinan terburuk yang dapat terjadi.

Lingkup Manajemen Risiko
Manajemen risiko dapat diaplikasikan dalam setiap tahapan aktivitas atau daur hidup suatu proyek yaitu:
a)      Tahap konsepsional
b)      Tahap rancang bangun
c)      Tahap konstruksi
d)     Tahap operasi
e)      Tahap pemeliharaan
f)       Tahap pasca operasi
Konsep manajemen risiko juga dapat diaplikasikan untuk berbagai aktivitas dan keperluan misalnya:
a)      Sector transportasi
b)      Bidang kesehatan
c)      Sector pertambangan
d)     Sector kehutanan
e)      Sector pertanian
f)       Bencana alam

KONSEP DASAR MANAJEMEN RISIKO

2.1. Pengertian
Setiap aktivitas mengandung risiko untuk berhasil atau gagal. Risiko adalh kombinasi dari kemungkinan dan keparahan dari suatu kejadian.
Semakin besar potensi terjadinya suatu kejadian dan semakin besar dampak yang ditimbulkannya, maka kejadian tersebut dinilai mengandung risiko tinggi.
Dalam aspek K3, risiko biasanya bersifat negative seperti cedera, kerusakn atau gangguan operasi. Risiko yang bersifat negative harus dihindarkan atau ditekan seminimal mungkin.
Menurut OHSAS 18001, risiko K3 adalah kombinasi dari kemungkinan terjadinya kejadian bahaya atau paparan dengan keparahan dari cedera atau gangguan kesehatan yang disebabkan oleh kejadian atau paparan tersebut. Sedangkan manajemen risiko adalh suatu proses untuk mengelola risiko yang ada dalam setiap kegiatan.

2.2. Perhitungan Risiko
Calculated Risk atau risiko yang diperhitungkan merupakan prinsip utama dalam mengelola suatu risiko. Dalam melakukan suatu aktivitas, manusia berada diantara titik aman (seratus persen aman) dan titik bahaya (seratus persen risiko). Jika bekerja atau melakukan kegiatan pada titik aman, kegiatan tersbut akan berjalan dengan selamat, sebaliknya jika berada pada titik risiko (seratus persen bahaya), dengan seketika terjadi kecelakaan atau kejadian lain yang tidak diinginkan.
Prinsip terbaik adalah calculated risk artinya seseorang melakukan sesuatu berdasarkan perhitungan untung rugi, perhitungan dan analisa risiko bahaya, perhitungan dampak dan setelah itu baru melakukan tindakan atau mengambil keputusan. Menghitung ridiko adalah kata kunci dalam manajemen risiko.

2.3. Persepsi Risiko
Ada orang yang sangat peduli terhadap risiko sebaliknya ada yang kurang peduli. Hal ini disebabkan karena perbedaan persepsi seseorang terhadap risiko yang dipengaruhi berbagai factor seperti latar belakang social, budaya, pengalaman dan pengetahuan.
Pada saat persepsi seseorang mengenai risiko berada di puncak, angka kecelakaan, kegagalan atau penyimpangan akan turun. Sebaliknya disaat persepsi risiko menurun, maka kewaspadaan juga akan menurun sehingga peluang terjadinya kecelakaan atau kegagalan akan meningkat.

2.4. Jenis Risiko
Risiko dalam organisasi sangat beragam sesuai dengan sifat, lingkup, skala dan jenis kegiatannya diantaranya sebagai berikut:
  • Risiko Finansial
  • Risiko Pasar
  • Risiko Alam
  • Risiko Operasional
Yang termasuk risiko operasional adalah:
    1. Ketenagakerjaan
    2. Teknologi
    3. Risiko K3
  • Risiko Ketenagakerjaan dan Sosial
  • Risiko Keamanan
  • Risiko Sosial

2.5. Proses Manajemen Risiko

2.5.1. Standar Manajemen Risiko
Menurut standar AS/NZS 4360 tentang Standar Manajen Risiko, proses manajemen risiko mencakup langkah sebagai berikut:
  1. Menentukan konteks
  2. Identifikasi Risiko
  3. Penilaian Risiko
    • Analisa Risiko
    • Evaluasi Risiko
  4. Pengendalian Risiko
  5. Komunikasi dan Konsulatasi
  6. Pemantauan dan Tinjau Ulang

2.5.2. Identifikasi risiko
Didalam bidang K3, identifikasi risiko disebut juga identifikasi bahaya, sedangkan di dalam bidang lingkungan disebut identifikasi dampak.
Tahap ini bertujuan untuk mengidentifikasi semua kemungkinan bahaya atau risiko yang mungkin terjadi dilingkungan kegiatan dan bagaimana dampak atau keparahannya jika terjadi.

2.5.3. Penilaian Risiko
Hasil identifikasi bahaya selanjutnya dianalisa dan dievaluasi untuk menentukan besarnya risiko serta tingkat risiko serta menentukan apakah risiko tersebut dapat diterima atau tidak.

2.5.4. Pengendalian Risiko
Semua risiko yang telah diidentifikasi dan dinilai tersebut harus dikendalikan, khususnya jika risiko tersebut dinilai memiliki dampak signifikan atau tidak dapat diterima.

2.5.5. Komunikasi dan Konsultasi
Langkah berikutnya adalah mengkomunikasikan risiko atau bahaya kepada semua pihak yang berkepentingan dengan kegiatan organisasi atau perusahaan.

2.5.6. Pemantuan dan Tinjau Ulang
Proses manajemen risiko harus dipantau untuk menentukan atau mengetahui adanya penyimpangan atau kendala dalam pelaksanaannya. Pemantauan juga diperlukan untuk memastikan bahwa system manajemen risiko telah berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan.  

MANAJEMEN RISIKO K3

3.1. Latar Belakang
Manajemen risiko K3 adalah suatu upaya mengelola risiko K3 untuk mencegah terjadinya kecelakaan yang tidak diinginkan secara komperhensif, terencana dan terstruktur dalam suatu kesisteman yang baik. Manajemen risiko K3 berkaitan dengan bahaya dan risiko yang ada di tempat kerja yang dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan.

3.2. Perkembangan Manajemen Risiko K3
Manajemen risiko K3 telah berkembang sejak lama. Pada tahun 1970. british Safety Council di Inggris mendirikan Institut of Risk Management untuk mengembangkan dan melakukan pembinaan terhadap ahli-ahli K3 mangenai manajemen risiko.
Sebelumnya manajemen risiko K3 telah diaplikasikan di lingkungan asuransi untuk menentukan tingkat tanggungan dan premi asuransi. Karena itu, lembaga memiliki hubungan dengan perusahaan penilai risikok (Risk Survey) yang melakukan analisa risiko terhadap perusahaan-perusahaan yang akan mempertanggungkan asetnya.

3.3 Hubungan Manajemen Risiko dan K3
Manajemen risiko sangat arat hubungannya dengan K3. Timbulnya aspek K3 disebabkan katena adanya risiko yang mengancam keselamatan pekerja, sarana dan lingkungan kerja sehingga harus dikelola dengan baik.
Sebaliknya , keberadaan risko dalam kegiatan perusahaan mendorong perlunya upaya keselamtan untuk mengendalikan semua risiko yang ada. Dengan demikian, risiko adalah bagian tidak terpisahkan dengan manajemen K3 yang diibaratkan mata uang dengan dua sisi.      

3.4. Proses Manajemen Risiko dalam Sistem Manajemen K3
Implementasi K3 dimulai dengan perencanaan yang baik yang meliputi, identifikasi bahaya, penilaian, dan pengendalian risiko (HIRARC- Hazards identification, Risk assessment, dan Risk control). HIRARC inilah yang menentukan arah penerapan K3 dalam perusahaan.
Penerapan system K3 dalam perusahaan dikaitkan dengan manajemen risiko dapat dikategorikan atas 4 jenis yaitu: virtual, salah arah, acak, dan komprehensif.


IDENTIFIKASI BAHAYA

4.1 Pendahuluan
Keberhasilan suatu proses manajemen risiko K3 sangat ditentukan oleh kemampuan dalam menentukan atau mengidentifikasi semua bahaya yang ada dalam kegiatan. Jika semua bahaya berhasil diidentifikasi dengan lengkap berarti perusahaan akan dapat melakukan pengelolaan secara komprehensif.

4.2. Tujuan Identifikasi Bahaya
Identifikasi bahaya memberikan berbagai manfaat antara lain:
  1. Mengurangi peluang kecelakaan
  2. Memberikan pemahaman bagi semua pihak mengenai potensi bahaya dari aktifitas perusahaan.
  3. Sebagai landasan sekaligus masukan untuk menentukan strategi pencegahan dan pengamanan yang tepat dan efektif.
  4. Memberikan informasi yang terdokumantasi mengenai sumber bahaya dalam perusahaan kepada semua pihak khususnya pemangku kepentingan.

4.3. Persyaratan Identifikasi Bahaya
Ada beberapa hal yang mendukung keberhasilan program identifikasi bahaya antara lain:
  • Identifikasi baya harus sejalan dan relevan dengan aktivitas perusahaan sehingga dapat berfungsi dengan baik
  • Identifikasi bahaya harus dinamis dan selalu mempertimbangkan adanya teknologidan ilmu terbaru.
  • Keterlibatan semua pihak terkait dalam proses identifikasi bahaya.
  • Ketersediaan metoda, peralatan, referensi, data dan dokumen untuk menduhung kegiatan identifikasi bahaya..
  • Akses terhadap regulasi yang berkaitan dengan aktifitas perusahaan termasuk juga pedoman industri dan data seperti MSDS ( Material Safety Data Sheet ).

4.4. Konsep Bahaya
Bahaya adalah segala sesuatu termasuk situasi atau tindakan yang berpotensi menimbulkan kecelakaan atau cidera pada manusia, kerusakan atau gangguan lainnya. Bahay merupakan sifat yang melekat dan menjadi bagian dari sutau zat, system, kondisi, atau peralatan.
Kesalahan pemahaman arti bahaya sering menimbulkan analissa yang kurang tepat dalam melaksanakan program K3 karena sumber bahaya yang sebenarnya justru tidak diperhatikan.
Bahaya adalah menjadi sumber terjadinya kecelakaan atau insiden baik yang menyangkut manusia, property dan lingkungan. Risiko menggambarkan besarnya kemungkinan suatu bahaya dapat menimbulkan kecelakaan serta besarnya keparahan yang dapat diakibatkanya.
Tiada kehidupan tanpa energi. Energi hadir dalam kehidupan kita dan terdapat disekitar kita. Energi merupakan unsure penting baik dalam lingkungan alam maupun lingkungan buatan seperti di industri atau pabrik.
Di dalam konsep energi, keberadaan energi inilah yang dinilai dapat menimbulkan risiko kecelakaan atau cedera.

4.5. Jenis Bahaya
Jenis bahaya dapat di klasifikasikan sebagai berikut:
  1. Bahaya mekanis
Bersumber dari peralatan mekanis atau benda bergerak dengan gaya mekanika.
  1. Bahaya listrik
Sumber bahaya yang bersumber dari energi listrik.
  1. Bahaya kimiawi
  2. Bahaya fisis
  3. Bahaya biologis

4.6. Sumber informasi Bahaya
a. Kejadian kecelakaan
Dari kasus kecelakaan banyak informasi berguna untuk mengenal bahaya misalnya:
  • Lokasi kejadian
  • Peralatan atau alat kerja
  • Pekerja yang terlibat dalam kecelakaan
  • Data-data korban
  • Waktu kejadian
  • Bagian badan yang cedera
  • Keparahan kejadian
b. Kecenderyngan kejadian
Identifikasi bahaya juga dapat dilakukan dengan mempelajari kecenderungan atau trend kejadian dalam perusahaan.

4.7. Teknik identifikasi bahaya
Identifikasi bahaya adalah suatu teknik komprehensif untuk mengetahui potensi bahaya dari suatu bahan, alat atau system.
a.       Teknik pasif
Metoda ini sangat rawan, karena tidak semua bahaya dapat menunjukan eksistensinya sehingga dapat terlihat. Sebagai contoh, di dalam pabrik kimia terdapat berbagai jenis bahan dan perlatan.
b.      Teknik semi proaktif
Teknik ini disebut juga belajar dari pengalaman orang lain karena tidak perlu mengalaminya sendiri setelah itu baru mengetahui adanya bahaya. Namun teknik ini juga kurang efektif.
c.       Metoda proaktif
Metoda terbaik untuk mengidebtifikasi bahaya adlah cara proaktif atau mencari bahaya sebelum bahaya terdebut menimbulkan akibat atau dampak yang merugikan.


4.8. Pemilihan Teknik Identifikasi Bahaya
Ada beberapa pertimbangan dalam menentukan teknik identifikasi bahaya yang tepat antara lain:
  • Sistematis dan terukur
  • Mendorong pemikiran kreatif tentang kemungkinan bahaya yang belum pernah dikenal sebelumnya.
  • Harus sesuai dengan sifat dan skala kegiatan perusahaan.
  • Mempertimbangkan ketersediaan informasi yang diperlukan.
Dalam proses produksi terjadi kontak antara manusia dengan mesin, material, lingkungan kerja yang di akomodir oleh proses atau prosedu kerja. Karena itu, sumber bahaya dapat berasal dari unsur – unsur produksi tersebut antatra lain:
    1. Manusia
    2. Peralatan
    3. Material
    4. Proses
    5. System dan prosedur

PENILAIAN RISIKO

5.1. Pendahuluan
Setelah semua risiko dapat diidentifikasi, dilakukan penilaian risiko melalui analisa risiko dan evaluasi risiko.
Analisa risiko dimaksudkan untuk menentukan besarnya risiko dengan mempertimbangkan kemungkinan terjadinya dan besar akibat yang ditimbulkan. Berdasarkan hasil analisa dapat ditentukan peringkat risiko sehingga dapat dilakukan pemilahan risiko yang memiliki dampak besar terhadap perusahaan dan risiko yang ringan atau dapat diabaikan.
Analisa risiko adalah untuk menentukan besarnya risiko yang merupakan kombinasi antara kemungkinan terjadinya (kemungkinan atau likelihood) dan keparahan bila risiko itu terjadi (severity atau consequences).

5.2. Analisa Risiko
5.2.1. Teknik analisa risiko
Analisa risiko adalah untuk menentukan besarnya suatu riiko yang dicerminkan dari kemungkinan dan keparahan yang ditimbulkan.
a. Teknik Kualitatif
metoda kulitatif menggunakan matrik risiko yang menggambarkan tingkat dari kemungkinan dan keparahan suatu kejadian yang dinyatakan dalam bentuk rentang dari risiko paling rendah sampai risiko paling tinggi.






Ukuran kualitatif dari “likelihood”
Menurut standar AS/NZS 4360

Level
Description
Uraian
A
Almost Certain
Dapat terjadi setiap saat
B
Likely
Kemungkinan terjadi sering
C
Possible
Dapat terjadi sekali-kali
D
Unlikely
Kemungkinan terjadi jarang

Ukuran kualitatif dari “consequency”
Menurut standar AS/NZS 4360

Level
Description
Uraian
1
Insignifant
Tidak terjadi cedera, kerugian financial kecil
2
Minor
Cedera ringan, kerugian financial sedang
3
Moderate
Cedera sedang, perlu penenganan medis,
Kerugian financial besar
4
Major
Cedera berat lebih satu orang, kerugian besar, gangguan produksi
5
Catastrophic
Fatal lebih satu orang, kerugian sangat besar dan dampak luas yang berdampak panjang, terhentinya seluruh kegiatan.

b. Semi kuntitatif
  • Nilai risiko digambarkan dalam angka numeric. Namun nilai ini tidak bersifat absolute. Misalnya risiko A bernilai 2 dan risiko B bernilai 4. dalam hal ini, bukan berarti risiko B secara absolute dua kali lipat dari risiko A.
  • Dapat menggambarkan tingkat risiko lebih kongkrit disbanding metoda kualitatif.

c. Metoda kuntitatif
Analisa risiko kuantitatif menggunakan perhitungan probabilitas kejadian atau konsekuensinya dengan data numeric dimanan besarnya risiko tidak berupa peringkat seperti pada metoda semikuantitatif.
Besarnya risiko lebih dinyatakan dalam angka seperti 1,2,3, atau 4 yang mana 2 mengandung arti risikonya dua kali lipat dari 1. oleh karena itu, hasil perhitungan kualitatif akan memberikan data yang lebih akurat mengenai suatu risiko disbanding metoda kualitatif atau semikuantitatif.
Contoh teknik kuntitatif antara lain:
  • Fault Tree Analysis (FTA)
  • Analisa Lapis Proteksi (Layer of Protection Analysis-LOPA)
  • Analisa Risiko Kuantitatif (Quantitative Risk Analysis-QRA)

5.2.2. Pemilihan teknik analisa risiko
Metoda kuantitatif jika potensi konsekuensi rendah, proses bersifat sederhana, ketidak pastian tinggi, biaya yang tersedia untuk kajian terbatas dan fleksibilitas pengambilan keputusan mengenai risiko rendah dan data-data yang tersedia terbatas atau tidak lengkap.
Teknik semikuantitatif dapat digunakan jika data-data yang tersedia lebih lengkap, dan kondisi operasi atau proses lebih komplek.
Metoda kuantitatif digunakan jika potensi risiko yang dapat terjadi sangat besar sehingga perlu kajian yang lebih rinci.

5.2.3. Peringkat Rasio
Kemungkinan
Keparahan
1
2
3
4
1
1
2
3
4
2
2
4
6
8
3
3
6
9
12
4
4
8
12
16
Dengan demikian, nilai risiko dapat diperoleh dengan mengalikan antara kemungkinan dan keparahannya yaitu antara 1-16.
Dari matrik diatas, dapat dibuat peringkat risiko misalnya:
Nilai 1-4          : Risiko Rendah
Nilai 5-11        : Risiko Sedang
Nilai 12-16      : Risiki tinggi

5.3. Evaluasi Risiko
Suatu risiko tidak akan memberikan makna yang jelas bagi manajemen atau pengambil keputusan lainnya jika tidak diketahui apakah risiko tersebut signifikan bagi kelangsungan bisnis.
Ada berbagai pendekatan dalam menentukan proritas risiko antara lain bedasarkan standar Australia 10014b yang menggunakan tiga kategori yaitu:
  • Secara umum dapat diterima (generally acceptable)
  • Dapat ditolerir (tolerable)
  • Tidak dapat diterima (generally unacceptable)

PENGENDALIAN RISIKO

Menurut standar AS/NZS 4360, pengendalian risiko secara ginerik dilakukan dengan melakukan pendekatan sebagai berikut:
  1. Hindarkan risiko dengan mengambil keputusan untuk menghentikan kegiatan atau penggunaan proses, bahan, alat yang berbahaya.
  2. Mengurangi kemungkinan terjadi
  3. Mengurangi konsekuensi kejadian
  4. Pengalihan risiko ke pihak lain
  5. Menanggung risiko yang tersisa

6.2. Strategi Pengendalian Risiko
6.2.1. Menekan likelihood
Pengurangan kemungkinan ini dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan yaitu: teknis, administrative, dan pendekatan manusia.
Pendekatan teknis
  • Eliminasi
  • Substitusi
  • Isolasi
  • Pengendalian jarak
Pendekatan administrative
  • Pengendalian pajanan
Penekatan ini dilakukan untu mengurangi kontak antara penerima dengan sumber bahaya.
Pendekatan manusia
  • Memberikan pelatihan kepada pekerja mengenai cara kerja yang aman, budaya keselamatan dan prosedur keselamatan.

6.2.2. Menekan konsekuensi
Berbagai pendekatan yang dapat dilakuan untuk mengurangi konsekuensi antara lain:
  • Tanggap darurat
  • Penyediaan alat pelindung diri (APD)
  • System pelindung

6.2.3. Pengalihan Risiko (risk transfer)
Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara misalnya:
  • Kontraktual, yang mengalihkan tanggung jawab K3 kepada pihak lain, misalnya pemasok atau pihak ke 3.
  • Asuransi, dengan menutup asuransi untukmelindungi potensi risio yang ada dalam perusahaan.

PROSES PENGEMBANGAN MANAJEMEN RISIKO

Proses penerapan manajemen risiko dalam perusahaan terdiri atas 6 langkah yaitu:
  1. Dukungan manajemen
  2. Kebijakan dan organisasi manajemen risiko
  3. Komunikasi
  4. Mengelola risiko tingkat korporat
  5. Mengelola risiko tingkat unit kegiatan/proyek
  6. Pemantauan dan tinjau ulang

1. Komitmen manajemen
Penerapan manajemen risiko dalam perusahaan tidak akan berhasil jika tidak dilandaskan komitmen manajemen puncak. Manajemen risiko pada dasarnya adalh upaya strategis seorang pimpinan unit usaha untuk mengelola usahanya dengan baik.
2. Penetapan kebijakan manajemen risiko
Komitmen manajemen mengenai manajemen risiko harus dituangkan dalam kebijakan tertulis. Kebijakan mengenai manajemen risiko ini mengandung sekurangnya komitmen perusahaan untuk meneraokan manajemen risiko, untuk melindungi pekerja, asset perusahaan, masyarakat pengguna, dan kelangsungan bisnis perusahaan.
3. Sosialisasi kebijakan manajemen risiko
Kebijakan dan program manajemen risiko perlu dikomunikasikan kepada semua unsure dalam perusahaan. Komunikasi penting agar seluruh pekerja mengetahui kebijakan perusahaan, memahami dan kemudian mengikuti dan mendukung dalam kegiatan masing-masing.
4. Mengelola risiko pada level korporat
Langkah awal dalam implementasi manajemen risiko adalah pada level korporat atau tingkat manajemen. Manajemen risiko harus dimulai pada tingkat korporat atau perusahaan, agar dapat diidentifikasi apa saja risiko, baik internal maupun eksternal perusahaan.
5. mengelola risiko pada tingkat unit kegiatan atau proyek
Langkah berikutnya adalah mengelola risiko pada tingkat kegiatan atau proyek. Risiko pada level ini lebih bersifat teknis dan langsung di tempat kerja masing-masing. Proses pengelolaan risiko dilakukan secara rinci untuk setiap aktivitas, lokasi kerja atau peralatan.
6. Pemantaun dan tinjau ulang
Hasil pelaksanaan manajemen risiko harus dipantau secara berkala untuk memastikan bahwa proses telah berjalan baik dan efektif. Hasil manajemen risiko akan menentukan apa program kerja K3 yang diperlukan untuk mengendalikan bahaya tersebut.

PERANGKAT MANAJEMEN RISIKO

Untuk membantu pelaksanaan manajemen risiko khususnya untuk melakukan identifikasi bahaya, penilaian dan pengendaliannya diperlukan metoda atau perangkat. Beberapa dintaranya adalah:
1. Data Kecelakaan
Data kecelakaan adalah salah satu sumber informasi mengenai adanya bahaya di tempat kerja dan merupakan sumber informasi yang paling mendasar. Setiap kecelakaan selalu ada sebabnya yang didasari adanya kondisi tidak aman baik menyangkut manusia, peralatan atau lingkungan kerja. Karena itu dari setiap kecelakaan, bagaimanapun kecilnya akan ditemukan adanya sumber bahaya atau risiko.
2. Daftar Periksa
Dalam penerapan metoda ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan;
  • Metoda ini bersifat spesifik untuk peralatan atau tempat kerja tertentu.
  • Daftar periksa harus dikembangkan oleh orag yang memahami atau mengenal tempat kerja atau peralatan.
  • Daftar periksa harus dievaluasi secara berkala, terutama jika ditemukan bahaya baru atau penambahan dan perubahan sarana produksi, system atau proses.
  • Pemeriksaan bahaya dilakukan olek mereka yang mengenal dengan baik kondisi lingkungan kerjanya.
3. Brainstorming
Teknik brainstorming dapat dilakukan secara berkala dalam suatu lingkungan atau kelompok kerja. Pertemuan dapat dipimpin oleh seorang senior, petugas K3 atau pejerja lainnya.
4. What-if
Teknik ini memberikan kebebasan yang kuas kepada peserta dalam berfikir dan memberikan pendapatnya, sehingga terkesan kurang terstruktur.
Tujuannya adalah mengidentifikasi kemungkinan adanya kejadian yag tidak diinginkan dan menimbulkan suatu konsekuensi serius.
5. Hazops ( Hazards and operability study )
Teknik identifikasi bahaya yang digunakan untuk industri proses seperti industri kimia, petro kimia dan kilang minyak
Dalam Hazops digunakan bantuan kata penuntun (guide word) yaitu:
  • More
  • Low
  • Less
  • No
  • High
  • Part of
Kajian Hazops dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
    1. Tahap persiapan
    2. Pemilihan node kajian
    3. pemilihan parameter
    4. Panggunaan kata bantu Hazops
    5. Analisa deviasi
    6. Laporan dan pemantauan
6. Failure Mode and Effect Analysis
FMEA adalah suatu tabulasi dari system, peralatan, pabrik dan pola kegagalannya serta efeknya terhadap operasi. FMEA adalah uraian mengenai bagaimana suatu peralatan dapat mengalami kegagalan.
Langkah melakukan FMEA:
  1. Tentukan unit, alat atau bagian yang akan di analisa.
  2. Uraikan unit atas system-sistem yang saling terkait satu dengan lainnya.
  3. Analisa masing-masing system dengan menguraikannya atas sub system.
  4. Lakukan analisa untuk masing-masing sub system.
  5. Untuk masing-masing factor kegagalan tersebut tentukan apa dampak atau akibat yang dapat ditimbulkan dan system pengaman yang ada.
  6. Tentukan tingkat risiko untuk masing-masing kegagalan.]
  7. Tentukan rekomendasi untuk mencegah terjadinya kegagalan tersebut.
7. Analisa pohon kegagalan
Proses melakukan kajian analisa pohon kegagalan/FTA (fault tree analysis) secara garis besar adalah sebagai berikut:
  • Identifikasi, inventarisasi data atau informasi yang diperlukan.
  • Melakukan analisa awal terhadap system yang akan di analisa.
  • Susun pohon kegagalan yang dimulai dengan kejadian puncak
8. Task Risk Assessment
TRA wajib dilakukan untuk pekerjaan sebagai berikut;
  • Mengandung potensi bahaya tinggi.
  • Pekeerjaan yang sebelumnya pernah mengalami kecelakaan.
  • Pekerjaan yang bersifat baru atau jarang/belum pernah dilakukan sebelumnya.
Teknik melakukan TRA.
Tentukan jebis pekerjaan yang akan dianalisa.
  1. Identifikasi apa saja aktifitas, material, peralatan atau prosedur yang digunakan.
  2. Analisa semua potensi bahaya.
  3. Tentukan tingkat risiko.
  4. Tentukan langkah pengamanan yang diperlukan.
  5. Tentukan sisa risiko yang ada setelah dilakukan langkah pengamanan.
  6. Jika risiko dapat diterima pekerjaan dapat dilangsungkan, tetapi jika risiko di atas batas yang dapat diterima perlu dipertimbangkan langkah pengamanan lainnya.
9. Job Safety Analysis (JSA)
JSA perlu dilakukan pada pekerjaan seperti berikut:
  • Pekerjaan yang sering mengalami kecelakaan.
  • Pekerjaan berisiko tinggi.
  • Pekerjaan yang jarang dilakukan.
  • Pekerjaan yang rumit atau komplek
Kajian JSA terdiri atas lima langkah sebagai berikut:
    1. Pilih pekerjaan yang akan dianalisa.
    2. Pecah pekerjaan menjadi langkah-langkah aktifitas
    3. Identifikasi poensi bahaya pada setiap langkah.
    4. Tentukan langkah pengamanan untuk mengendalikan bahaya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan masukan komentar Anda

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...