Jumat, 25 Maret 2011

Sejarah Mesir, Bani Israil, Yahudi dan Fremasonry

Bab I: Flash Back

 

Artikel ini dimulai dari sebuah kisah Nabi yang menjadi pengikat tiga agama besar di dunia saat ini: Nabi Ibrahim. Membicarakan Yahudi adalah terasa kurang bila tidak membicarakan terlebih dahulu Nabi mulia ini. Sejarawan banyak yang sepakat bahwa Nabi Ibrahim lahir di tanah yang kini penuh dengan kekakacauan, Irak tepatnya di kota Ur, Kaldan di bagian selatan Irak. Ur terletak di pinggiran sungai Eufrat yang terkenal itu. Ada sebagian lagi mengatakan beliau lahir di kota Kutsa, selatan Irak. Sebagai tempat kelahiran Nabi Ibrahim, kota ini juga masih menyimpan puing-puing reruntuhan akan pengorbanan Nabi Ibrahim ke dewa-dewa atas perbuatan beliau yang menghancurkan patung.

Puing-puing reruntuhan ini masih tersisa hingga sekarang dan diberi nama Tel Ibrahim. Saat Nabi Ibrahim hidup, yang memegang kekuasaan adalah raja Namrud bin Kana’an bin Kusyi. Singkat kata, setelah beliau selamat dari kobaran api besar yang dijadikan sebagai “penebusan dosa” untuk para dewa, Nabi Ibrahim pun hijrah. Hal ini disebabkan selama ini kaumnya tidak pernah menghiraukan dakwah beliau. Beliau hijrah merupakan sebuah keniscayaan dari sejarah para nabi. Pada masa selanjutnya, Nabi Yakub, Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad semuanya pernah berhijrah. Nabi Ibrahim hijrah ke tanah Syam (Suriah sekarang) dan tinggal di Haran, sebelah utara Syam. Tetapi di sini para penduduknya juga tidak menghiraukan dakwah beliau. Beliau pun berhijrah ke tanah Kana’an (Palestina).

Di tanah Kan’aan ini beliau mendakwakan tauhid bahwa hanya Allah semata yang patut disembah. Suatu saat tanah Kana’an mengalami masa kekeringan dan paceklik. Nabi Ibrahim pun bersama istrinya, Sarah pergi menuju Mesir. Pada saat itu Mesir sudah maju dan makmur di bawah kekuasaan raja (Fir’aun) Sanusart II dan Sanusart III. Wilayah kekuasaan Fir’aun pada saat itu membentang hingga Syam (suriah).


Peta Mesir kuno

Selama di Mesir inilah Nabi Ibrahim mendapatkan istri keduanya yang bernama Hajar, yang menurut beberapa riwayat adalah seorang budak dari Fir’aun tetapi ada juga yang mengatakan Hajar adalah anak kandung Fir’aun dari rahim selirnya. Mana yang benar antara kedua riwayat ini bukan itu yang menjadi perdebatan. Inti sejarahnya adalah dari kedua rahim istri nabi Ibrahim inilah dunia saat ini menjadi sebuah wacana pertempuran tiga ideology besar: Yahudi, Nasrani dan Islam.

Selanjutnya, Nabi Ibrahim kembali lagi ke Kan’an (Palestina) dan singgah di Hebron. Di tanah Kana’an ini beliau sempat mengunjungi bebarapa tempat seperti Beersheba, AL Quds, el Khali dan tempat lainnya.
Dari istri kedua beliau, Hajar, Nabi Ibrahim mendapatkan keturunan Ismail dan dari istri pertama, Sarah, beliau mendapatkan keturunan Ishak, yang kedua-duanya kelak menjadi seorang nabi pula. Kemudian Nabi Ishak mendapatkan putra bernama Yakub yang mempunyai nama julukan Israel. Untuk nama Israel ini, di dalam Al Qur’an hanya disebutkan sekali saja untuk merujuk ke Nabi Yakub yaitu di surat 3 ayat 93. Silakan Anda mengecek ayat tersebut.

Nabi Yakub dilahirkan di Palestina pada abad kedelapan sebelum Masehi, atau kira-kira pada tahun 1750 sebelum Masehi. Menurut riwayat beliau hijrah ke tanah Haran. Di tanah baru ini beliau menikah dan dikarunia dua belas putra: Simeon (Samson), Reuben, Levy, Judah, Issachar, Zebulun, Dan, Naphtali, Gad dan Asher. Sedangkan putra terakhir beliau Benyamin, dilahirkan di tanah Kana’an (Palestina), setelah Nabi Yakub kembali bersama anak-anaknya ke Sa’ir, dekat el Khalil (Hebron).

Yakub dan keluarganya selanjutnya hijrah ke Mesir seperti kejadian yang dialami oleh Nabi Ibrahim, masa paceklik. Selanjutnya di Mesir inilah Al Qur’an mengisahkan bagaimana kehidupan Nabi Yusuf dalam surat Yusuf. Dan atas kebaikan Nabi Yusuf inilah anak-anak nabi Yakub dan semua keturunannya hidup dengan tenang. Dan inilah babak awal dari masa Bani Israel. Hal ini dikatakan demikian karena semua keturunan Nabi Yakub disebut Bani Israel.

Sejarah Bani Israel pun dimulai dari Mesir. Dan Sejarah besar pun mulai terukir di tanah ini hingga nanti ke Palestina.Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Mesir-Palestina merupakan dua tanah sejarah semenjak Nabi Ibrahim hingga sekarang. Dan judul artikel ini adalah tepat karena dari Mesirlah awal sejarah besar terukir dan di Palestinalah akhir sejarah akan diukir.

Sysru pernah berkata tentang Athena, “ketika kita menjejakkan kaki kita di sini, maka kita tengah berjalan di atas sejarah.” Kalimat Sysru di atas tepat juga untuk dilabelkan ke artikel ini: tanah Mesir-Palestina, adalah dua tanah yang akan menjadi sejarah akan berawal sejarah Bani Israel dan berakhirnya Yahudi.


Bab II : Bani Israel di Mesir
Para sejarawan berpendapat ketika nabi Yakub dan semua keluarganya hijrah ke Mesir, Mesir saat itu di bawah pemerintahan dinasti Hyksos pada abad kesembilan belas sebelum Masehi (1878-1580). Hyksos adalah bangsa penggembala asal Asia yang hijrah ke Mesir. Kisah klasik suatu bangsa pindah adalah masa paceklik. Bangsa ini berhasil memanfaatkan kelemahan penguasa Mesir pada saat itu dan membentuk empat dinasti penguasa Mesir selanjutnya.

Selama masa dinasti Hyksos, Bani Israel hidup dalam keadaan aman dan makmur. Singkat kata, Ahmes berhasil mengalahkan dinasti Hyksos pada abad keenam belas dan mengusir mereka. Maka Mesir kembali di bawah pemerintahan bangsa asli Mesir dan membentuk dinasti XVIII.

Dinasti penguasa Mesir baru ini melihat bahwa Bani Israel lebih berpihak ke Hyksos dari pada ke mereka, maka dinasti ini pun mulai merasa resah akan keberadaan Bani Israel di Mesir.

Sebagai bahan tambahan saling berganti masa penguasa tanah Mesir berikut penulis sajikan kepada Anda silsilah masa kekuasaan Mesir.

Periode sebelum masa dinasti 3500-3100 sebelum Masehi
Periode dinasti awal 3100-2686 sebelum Masehi
‘Scorpion’
Dinasti pertama c.3100-2890 sebelum Masehi
Narmer
Menes (Hor-Aha)
Djer
Wadj (Djet)
Den
Anendjib
Semerkhet
Qa’a
Dinasti kedua c.2890-2686 Sebelum Masehi
Hotepsekhemwy
Raneb
Nynetjer
Seth-Peribsen
Khasekhemwy
Kerajaan Tua c.2686-2181 Sebelum Masehi
Dinasti ketiga c.2686-2613 sebelum Masehi
Sanakhte (Nebka) (c.2688-2668)
Djoser (c.2668-2649)
Sekhemkhet (Djoser Teti) (c.2649-2641)
Khaba (c.2641-2637)
Huni (c.2637-2613)
Dinasti keempat c.2613-2494 sebelum Masehi
Snofru (c.2613-2589)
Khufu (Cheops) (c.2585-2566)
Djedefre (c.2566-2558)
Khafre (Rekhaf) (c.2558-2532)
Menkaure (Mykerinos) (c.2532-2514)
Shepseskaf (c.2514-2494)
Dinasti V c.2494-2345 sebelum Masehi
Userkaf (c.2494-2487)
Sahure (c.2487-2475)
Neferirkare Userkhau (c.2475-2455)
Shepseskare (c.2455-2448)
Raneferef (c.2448-2445)
Niuserre (c.2445-2421)
Menkauhor (c.2421-2413)
Djedkare (c.2413-2381)
Unas (Wenis) (c.2381-2345)
Dinasti VI c.2345-2181 sebelum Masehi
Teti (c.2345-2313)
Pepi I Meryre (c.2313-2279)
Merenre (c.2279-2270)
Pepi II Neferkare (c.2279-2181)
Periode pertengahan awal c.2181-2040 sebelum Masehi
Dinasti VII / VIII c.2181-2173 sebelum Masehi
Wadjkare Qakare Iby
Dinasti IX /X c.2160-2040 sebelum Masehi
Meryibre Kheti (Akhtoy) I
Merykare
Kanrferre
Nebkaure Kheti (Akhtoy) II
Wahkare Kheti (Akhtoy) III
Merikare 11th Dynasty c.2133-1991 sebelum Masehi
Intef I (Inyotef I) Sehertawy (c.2133-2123)
Intef II (Inyotef II) Wahankh (c.2123-2074)
Intef III (Inyotef III) Nakhtnebtepnefer (c.2074-2066)
Mentuhotep I ? (c.2066-2040)
Kerajaan masa pertengahan c.2040-1786 sebelum Masehi
Dinasti XI
Mentuhotep II Nebhepetre (c.2040-2010)
Mentuhotep III Sankhkare (c.2010-1998)
Mentuhotep IV Nebtawyre (c.1998-1991)
Dinasti XII c.1991-1786 sebelum Masehi
Amenemhet I Sehetepibre (c.1991-1962)
Senusret I Kheperkare(c.1962-1917)
Amenemhet II Nubkaure (c.1917-1882)
Senusret II Khakhperre (c.1882-1878)
Senusret III Khakaure (c.1878-1841)
Amenemhet III Nimaatre (c.1841-1796)
Amenemhet IV Maakherure (c.1796-1790)
Queen Sobeknerfu Neferusobek (c.1790-1786)
Periode pertengahan kedua c.1786-1567 sebelum Masehi
Dinasti XII (kira-kira ada 70 raja) c.1786-1633 sebelum Masehi
Wegaf Khawitawire (c.1783 – 1779)
Amenemhet V Sekhemkare
Harnedjheriotef Hetepibre
Sobekhotep I Khaankhre (ca.1750)
Hor
Amenemhet VII Sedjefakare
Sobekhotep II Sekhemre-Khutawy (ca.1745)
Khendjer
Sobekhotep III
Neferhotep I Khasekhemre (c.1723-1713)
Sobekhotep IV Merihotepre Khaneferre (c.1713)
Iaib (c.1713-1703)
Ay Merneferre (c.1703-1680)
Neferhotep II
dan lebih dari 8 raja pada dinasti XIV c.1786-1603 sebelum Masehi
Nehesy dinasti XV c.1674-1567 sebelum Masehi
Hyksos kings
Sheshi (Salitis?)
Yakubber (Bnon?)
Khyan (Apachnan)
Apepi I (Apophis)
Apepi II (Khamudi?) (c.1542-1532)
Dinasti XVI c.1684-1567 sebelum Masehi Raja-raja Hyksos
Anather
Yakobaam ?
Dinasti XVII c.1650-1567 sebelum Masehi
Sobekemsaf I
Sekhemre Wadjkhau
Sobekemsaf II
Intef VII
Tao I Seakhtenre
Tao II Sekenenre
Kamose Wadjkheperre


Patung Raja-Raja Fir’aun (Mesir)


Kerajaan Baru c.1570-1070 sebelum Masehi


Dinasti XVIII c.1570-1293 sebelum Masehi
Ahmose I Nebpehtyre (c.1570-1546)
Amenhotep I Djeserkare (c.1546-1527)
Thutmose I Akheperkare (c.1527-1515)
Thutmose II Akheperenre (c.1515-1498)
Queen Hatshepsut Maatkare (c.1498-1483)
Thutmose III Menkhepere (c.1504-1450)
Amenhotep II Akheperure (c.1450-1412)
Thutmose IV Men-khepru-Re (1412-1402)
Amenhotep III Nebmaatre (c.1402-1364)
Amenhotep IV/Akhenaten Neferkheperure (c.1350-1334)
Smenkhkare Ankhheperure (c.1334)
Tutankhamen Nebkheperoure (c.1334-1325)
Ay Kheperkheperure (c.1325-1321)
Horemheb Djeserkheperure (c.1321-1293)


Dinasti XIX c.1293-1185 sebelum Masehi
Ramses I Menpehtyre (c.1293-1291)
Seti I Merienptah Menmaatre (c.1291-1278)
Ramses II Meriamen Usermaatre Setepenre (c.1279-1212)
Merneptah Hetephermaat Baenre Meriamen (c.1212-1202)
Amenmes Heqawaset Menmire Setepenre (c.1202-1199)
Seti II Merenptah Userkheperure Setepenre (c.1199-1193)
Merneptah Siptah Sekhaenre/Akhenre (c.1193-1187)
Queen Twosret Setepenmut Sitre Meriamen (c.1187-1185)


Dinasti XX c.1185-1070 sebelum Masehi
Sethnakhte Userkhaure Setepenre (c.1185-1182)
Ramses III Usermaatre Meriamen (c.1182-1151)
Ramses IV Usermaatre/Heqamaatre-Setepenamen (c.1151-1145)
Ramses V Usermaatre Sekheperenre (c.1145-1141)
Ramses VI Nebmaatre Meriamen (c.1141-1133)
Ramses VII Usermaatre Setepenre Meriamen (c.1133-1128)
Ramses VIII Usermaatre Akhenamen (c.1128-1126)
Ramses IX Neferkare Setepenre (c.1126-1108)
Ramses X Khepermaatre Setepenptah (c.1108-1098)
Ramses XI Menmaatre Setepenptah (c.1098-1070)
Periode pertengahan ketiga c.1070-664 sebelum Masehi
High Priests (Thebes)


Dinasti XXI sementara ada di Tanis
Herihor Siamun Hemnetjertepyenamun (c.1080-1074)
Piankh (c.1074-1070)
Pinedjem I Meriamen Khakheperre Setepenamun (c.1070-1032)
Masaherta (c.1054-1046)
Djedkhonsefankh (c.1046-1045)
Menkheperre (c.1045-992)
Smendes II (c.992-990)
Pinedjem II (c.990-969)
Psusennes (c.969-959)


Dinasti XXI
Tanite c.1070-945 sebelum Masehi
Nesbanebded Hedjkheperre Setepenre (Smendes I) (c.1070-1043)
Nephercheres (Neferkare-hekawise Amenemnisu Meramun (c.1043-1039)
Psusennes I Akheperre Setepenamun (c.1039-1000)
Amenemope Usimare Setepenamun (c.1000-991)
Osorkon the elder (Osochor) (c.991-985)
Psinaches (c.985-976)
Psusennes II Titkheprure (c.976-962)
Siamun Nutekheperre Setepenamun Siamun Meramun (c.962-945)


Dinasti XXII
Bubastite c.945-730 sebelum Masehi
Sheshonq I Hedjkheperre Setepenre (c.945-924)
Osorkon I Sekhemkheperre Setepenre (c.924–889)
Sheshonq II Hekakheperre Setepenre (ca. 890)
Takelot I Usimare (c.889–874)
Osorkon II Usimare Setepenamun (c.874–850)
Harsiese (ca. 865)
Takelot II Hedjkheperre Setepenre (c.850–825)
Sheshonq III Usimare Setepenamun (c.825–773)
Pamai (c.773–767)
Sheshonq V Akheperre (c.767–730)
Osorkon IV (c.730–712)


Dinasti XXIII
Tanite c.817-730 sebelum Masehi
Pedibastet Meriamen Usermaatre Setepenre(c.818–793)
Iuput I (ca. 800)
Sheshonq IV Usermaatre Meriamen (c.793–787)
Osorkon III Usermaatre Setepenamen (c.787–759)
Takelot III Usermaatre (c.764–757)
Rudamon Usermaatre Setepenamen (c.757–754)
Iuput II Meriamen sibastet Usermaatre (c.754–712)
Nimlot (ca. 740)
Peftjauabastet Nefer-ka-re (c.740–725)
Thutemhat (ca. 720)
Pedinemti (ca. 700)


Dinasti XXIV c.720-714 sebelum Masehi
Shepsesre Tefnakht (c.724-717)
Wahkare Bakenrenef (c.717-712)


Dinasti XXV 747-656 sebelum Masehi
Piye Usimare Sneferre (Piankhi) (747-716)
Shabaka Neferkare Wahibre (716-702)
Shebitku Djedkaure Menkheperre (702-689)
Taharka Khunefertemr (689-663)
Tanutamun Bakare (663-656)
Periode dinasti terakhir 664-332 sebelum Masehi


Dinasti XXVI 664-525 sebelum Masehi
Necho I (664-656)
Psammetic I Wahemibre Psamtek (656-609)
Necho II Wahemibre Neko (609-594)
Psammetic II Neferibre Psamtek (594-587)
Wahibre (Haaibre) (Apries) (587-569)
Ahmose II Khnemibre (Amasis) (569-526)
Psammetic III Ankhkaenre (526)


Dinasti XXVII 525-404 sebelum Masehi
Cambyses II (525-522)
Darius I (521-486)
Xerxes (486-465)
Artaxerxes I (465-424)
Darius II (423-405)
Artaxerxes II (405-359)


Dinasti XXVIII 404-399 sebelum Masehi
Amenirdis (Amyrtaeus) (404-399)


Dinasti XXIX 399-380 sebelum Masehi
Nefaarud I (Nepherites I) (399-393)
Psammuthis Userre Setepenptah Pasherienmut (ca. 392)
Hakor Khnemmaere Setpenkhnum (Achoris) (392-380)
Nefaarud II (Nepherites II) (380)


Dinasti XXX 380-343 sebelum Masehi
Nakhtnebef Kheperkare (Nectanebo I) (380-362)
Djedhor (362-360)
Nekhtharehbe Snedjemibre Setpenanhur (Nectanebo II) (360-343)


Dinasti XXXI 343-332 sebelum Masehi
Artaxerxes III (343-338)
Arses (338-336)
Darius III (336-332)
Periode Romawi Kuno Raja-raja Masedonia
Alexander the Great (332-323)
Philip III Arrhidaeus (323-317)
Alexander IV Aegus (317-311)


Dinasti Ptolemaik 323-30 sebelum Masehi
Ptolemy I Soter (305-282)
Ptolemy II Philadelphus (284-246)
Arsinoe II (278-270)
Ptolemy III Euergetes I (246-222)
Bernice II (246-221)
Ptolemy IV Philopator (222-205)
Ptolemy V Epiphanes (205-180)
Harwennefer (205-199)
Ankhwennefer (199-186)
Cleopatra I (194-176)
Ptolemy VI Philometor (180-164)
Cleopatra II (175-115)
Ptolemy VII Neos Philopator (164-145)
Ptolemy VIII Euergetes II (145)
Cleopatra III (142-101)
Ptolemy IX Soter II (116-80)
Ptolemy X Alexander I (107-88)
Ptolemy XI Alexander II (80)
Ptolemy XII Neos Dionysos (80-51)
Queen Bernice IV (58-55)
Ptolemy XIII (51-47)
Queen Cleopatra VII (51-30)
Ptolemy XIV (47-44)
Ptolemy XV (44-30)

Kembali ke nasib Bani Israel, pada masa dinasti XIX berkuasa, tepatnya pada masa Ramses II, Bani Israel mengalami masa-masa yang paling sulit dalam kehidupan mereka. Hal ini disebabkan pada masa sebelumnya, orang-orang Mesir mendapatkan perlakuan yang berbeda dalam masa dinasti Hyksos dan juga semakin banyaknya populasi mereka hingga menjadi begitu dominan dalam masyarakat. Dan ketika Ramses II berkuasa, Bani Israel dijadikan budak yang hina dengan hak-hak kehidupan yang begitu jauh dari orang-orang Mesir pada umumnya. Di samping alasan di atas, Bani Israel dijadikan budak karena manuver-manuver mereka yang mencoba untuk mengkudeta dinasti XIX tersebut.


Ilustrasi Perbudakan terhadap Israel

Ilustrasi Bani Israel menjadi budak dan mendapat hukuman


Dalam keadaan tertekan inilah, tampillah putra terbaik dari Bani Israel yang kemudian dijadikan oleh Allah menjadi nabi sekaligus pembebas Bani Israel dari kehinaan yaitu Nabi Musa.


Bab III: Penindasan dan Eksodus
Penindasan Firaun atas Bani Israel begitu hebat, hingga Allah sendiri menggunakan kalimat, “..mereka menyiksa kalian dengan siksa yang pedih…Pada yang demikian itu ada cobaan yang besar dari Tuhan” (Ibrahim: 6)

Penindasan tidak hanya berupa fisik dengan menjadikan mereka budak tetapi juga berlanjut terhadap generasi mereka. Firaun dalam sejarah yang masyhur ia adalah Ramses II, juga memerintahkan untuk membunuh anak laki-laki Bani Israel dan para perempuannya dipermalukan. Dalam konteks modern, mempermalukan perempuan berarti dijadikan pelacur atau dijadikan obyek senonoh dalam bentuk tarian setengah telanjang atau dijadikan pelayan dengan pakaian setengah telanjang.

Itu semua dilakukan oleh Firaun tanpa ampun. Setelah lama menjadi budak, kira-kira hampir 400 tahun lamanya, Bani Israel pun akhirnya mendapatkan seorang penolong yang pernah menjadi anak angkat Firaun sendiri yaitu Musa. Nama Musa sendiri adalah dari bahasa Kopti tua, gabungan di antara dua kata, Mu dan Sa. Mu artinya air dan Sa artinya pohon. Jadi Musa berarti pohon air. Demikian yang penulis nukil dari tafsir Al Azhar milik ulama panutan penulis, Buya Hamka di juz ke-9.


Horus, salah satu Dewa Mesir. Kini dipakai menjadi simbol negara termasuk Indonesia
 

Beliau dinamai demikian sebab di waktu bayi beliau dilemparkan oleh ibunya ke sungai Nil dengan diletakkan di dalam sebuah peti kayu, lalu dipungut oleh puteri Firaun kemudian dipelihara yang oleh Allah menjadikan Musa the enemy of Firaun’s enemy. Singkat kata, setelah adu kekuatan antara sihir dan mukjizat Allah di hadapan seluruh rakyat Mesir, Firaun semakin gusar akan kehadiran Nabi Musa di Mesir dengan misinya : Pembebasan Bani israel. Kegusaran Firaun bukan hanya terletak pada tiada artinya kekuasaanya di mata Nabi Musa akan halnya ia sebagai Tuhannya bangsa Mesir, tetapi juga akan tiadanya Bani Israel di tanah Mesir.

Apalah artinya seorang raja diraja tanpa budak belian yang hina? Tidak ada seorang pun yang jadi raja jika tidak ada yang menjadi budak. Prinsip sederhana ini merupakan alasan Firaun untuk tidak melepaskan Bani Israel dari tanah Mesir. Bani Israel dihina tapi juga dibutuhkan. Bani Israel ditindas tapi juga berguna atas nama pembangunan. Sebuah kisah klasik hingga di zaman modern: suatu bangsa ditindas akan hak-haknya tapi dibutuhkan dalam perekonomian atas nama Negara. Kita dapat melihatnya sekarang maka kaum buruh dengan upah yang murah tapi tidak diperhatikan akan hak-haknya. Meski demikian, para buruh tersebut sangat dibutuhkan untuk menggerakkan roda perekonomian Negara. Menjadi budak di Negara sendiri? Boleh jadi demikian.

Kembali ke nasib Bani Israel. Pembangunan piramid dan bangunan besar lainnya di Mesir pastilah membutuhkan tenaga yang banyak tapi murah dari ongkos kas negara. Dan itu jelas didapatkan dari tenaga Bani Israel. Sebuah bangsa yang begitu besar populasinya semenjak dinasti Hyksos. Maka Allah mengurus Nabi Musa untuk membebaskan Bani Israel dari perbudakan. Pembaca yang budiman, pembebasan Nabi Musa ini meliputi dua hal. Yang pertama pembebasan secara fisik dari perbudakan. Dan yang kedua pembebasan secara spiritual dari budak hawa nafsu dengan bertauhid kepada Allah semata. Hanya Allah sajalah yang patut disembah dan dipuja.


Apis, dewa yang kemudian menjadi model sapi betina Samiri (lihat surat Al Baqarah)
 

Dengan petunjuk Allah, Nabi Musa mulai melakukan manuver politik dengan menggalang kekuatan untuk siap-siap eksodus besar-besaran dari Mesir. Tetapi langkah Nabi Musa ini pun mulai dikeluhkan oleh Bani Israel sendiri. Ibarat kata, mereka seperti anjing yang tercepit di pintu pagar. Tidak ditolong anjing tersebut kesakitan tetapi jika ditolong pun ia akan menggigit. Nah, Bani Israel megeluh akan perjuangan Nabi Musa ini direkam dalam Al Qur’an dalam surat ke-7 ayat 129,
”Mereka (Bani Israel) berkata, ”Telah disakiti kami sebelum engkau datang kepada kami, dan sesudah engkau mendatangi kami. ”

Dengan keteguhannya dan dengan optimisme berlandaskan iman, Nabi musa menyakinkan Bani Israel bahwa ia akan membimbing mereka ke tanah yang dijanjikan, Kana’an, Palestina sekarang ini. Tetapi, pembaca yang budiman, ada hal yang perlu ditekankan akan hal ini. Tanah atau bumi yang dijanjikan oleh Allah melalui Nabinya hanyalah untuk hamba-hamba Allah siapa saja yang Dia inginkan. Dengan kata lain, hanya bangsa yang beriman kepada Allahlah maka bumi atau tanah di manapun berada untuk dihuni, digarap dan dijadikan tempat untuk beribadah kepada Allah. Dengan demikian tanah Palestina adalah tanah yang dijanjikan untuk semua bangsa yang beriman (bertauhid) kepada Allah.

Bukan hanya untuk Bani Israel semata! Untuk mempertegas hal ini silakan buka surat ke-7 ayat ke-128 dan surat ke-21 ayat ke-41. Kembali ke kisah Nabi Musa, Nabi Musa membawa misi untuk melepaskan Bani Israel dari penindasan Firaun juga membawa misi lain yaitu dakwah tauhid. Sudah bukan rahasia lagi kalau bangsa Mesir begitu percaya dengan dewa-dewa. Di samping percaya dengan dewa-dewa, mereka juga percaya dengan kekuatan sihir yang menurut mereka adalah bentuk pertolongan dari para dewa. Berkaitan dengan ini, maka Firaun meminta para ahli sihirnya untuk bertarung dengan kekuatan yang dibawa oleh Nabi Musa. Maka terjadilah pertarungan terbuka antara Nabi Musa dan para ahli sihir tersebut.


 
ilustrasi Nabi Musa dan ahli sihir di hadapan Firaun
 
Singkat kata, para ahli sihir tersebut kalah. Maka kalahlah pula Firaun atas kekuatannya yang diwakilkan kepada para ahli sihirnya. Perlu pembaca ketahui bahwa ahli sihir di zaman Firaun memiliki kedudukan lebih dekat daripada para jenderal perang atau pejabat besar lainnya. Ini diperkuat oleh Al Qur’an dalam surat ke-7 ayat ke-110 ketika Firaun meminta perintah kepada ahli sihir atas kekuatan yang dibawa Nabi Musa berupa tongkat yang menjadi ular.


Anubis, Dewa Kematian

Luar biasa! Firaun meminta perintah dari ahli sihir, bukan dirinya yang memberi perintah. Dapat Anda bayangkan betapa powerful-nya para ahli sihir tersebut di mata Firaun! Tapi apa yang terjadi ketika mereka kalah dihadapan Nabi Musa? Ibarat pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Itulah yang terjadi pada Firaun. Ahli sihir yang sudah kalah tadi juga membelot secara ideologi. Tepat dihadapan Firaun!


khnum, Dewa Ram.


Dewa ini menjadi simbol organisasi rahasia Yahudi Firaun yang kekuatannya diwakilkan pada ahli sihir tercoreng dua kali secara beruntun. Kemarahan yang begitu besar pun terlontarkan. Dan ekses ini pun berlanjut ke Bani Israel. Bani Israel pun melontarkan marahnya kepada Nabi Musa akan semuanya ini. Melihat hal ini, maka Allah memberi perintah kepada Nabi Musa. Dan perintah dari Allah untuk ini hanya satu : Segera keluar dari tanah Mesir!

 

Eksodus terbesar dalam sejarah pun terjadi. Bani Israel dengan di bawah komando Nabi Musa mulai keluar dari tanah Mesir. ilustrasi Bani Israel sedang eksodus Sebuah eksodus Bani Israel yang sangat bersejarah dan sekaligus berbahaya ! Bersejarah, karena inilah langkah awal mereka mulai mengawali sebuah kehidupan baru hingga masa kini. Bersejarah, karena inilah awal mereka menjadi sebuah bangsa yang benar-benar memiliki sebuah tanah sendiri, bukan tanah bangsa lain. Dan tanah tersebut adalah Kana’an, Palestina. Bersejarah, karena inilah awal mereka menjadi sebuah bangsa yang mulai terkuak kedoknya yang pembangkang, penakut, sombong, tamak terhadap dunia, pembunuh, tukang adu domba dan sebagainya yang dapat kita rasakan hingga masa sekarang ini.


Osiris, salah satu dewa Mesir
Bersejarah karena inilah awal mereka akan terpecah menjadi dua kekuatan besar di masa sekarang ini selain agama Islam, Yahudi dan Nasrani. Bersejarah karena mereka menjadi bangsa yang merdeka. Bukan lagi menjadi budak hina. Berbahaya, karena mereka pasti diburu oleh tentara Firaun untuk dibunuh karena keluar dari Mesir. Berbahaya, karena mereka baru kali ini menggembara di belantara padang pasir tanpa pengalaman sama sekali hidup dalam dunia padang pasir. Berbahaya, karena mereka akan menghadapi semuanya, tanah yang dijanjikan, hidup bebas, ideologi tauhid dengan taruhan nyawa.

Tetapi Bani Israel tidak punya pilihan lain. Eksodus atau tidak sama sekali! Ingin membuat sejarah baru atau terkubur oleh sejarah itu sendiri di tanah Mesir. Nabi Musa pun mulai mengantarkan mereka menuju tanah baru. Dan itu harus dimulai dengan menyeberangi laut merah. Ketika sampai di hadapan laut merah ini pun ada di antara mereka mulai menggerutu. Di depan laut terbentang luas sementara mereka tidak punya kapal atau perahu untuk menyeberang. Di belakang tentara Firaun siap menggorok leher mereka.

Kembali mereka menyalahkan Nabi Musa atas tersudutnya keadaan mereka. Dan kembali, sejarah besar terjadi. Dan ini pun hanya sekali dalam hidup. Bila eksodus besar-besaran ini hanya terjadi dalam sekali di sejarah manusia, maka laut yang terbelah juga terjadi hanya sekali dalam sejarah. Memang kehidupan Bani Isarel penuh dengan sejarah besar. Eksodus, laut terbelah adalah bagian dari sejarah besar mereka. Dengan terbelahnya laut Merah atas pertolongan Allah dengan melalui ketukan tongkat musa, maka selamatlah Bani Israel dari kejaran Firaun.

ilustrasi terbelahnya laut Merah

Nasib Firaun sendiri? Mati secara menggenaskan di lautan yang ia akui di bawah kekuasaannya bersama seluruh tentaranya ketika mencoba melewati jalan yang sama ditempuh oleh Bani Israel. Dan mayatnya ini tetap diselamatkan oleh Allah sebagai bukti kekuasaan Allah atas manusia paling sombong yang pernah lahir di dunia.

ilustrasi Bani Israel sedang menyeberangi laut Merah

Menurut sejarah, hanya mayat Firaun Ramses II ini sajalah yang di paru-parunya terdapat bekas rendaman air laut. Adapun mumi yang lain tidak ditemui hal ini. Ini yang membuat para ahli sejarah Mesir Kuno menyakini jika Ramses II adalah Firaun yang mengejar Nabi Musa.

Terlepas dari itu semua, sejarah kehidupan Bani Israel memasuki babak baru.
Dan artikel ini akan menguak bagaimana watak asli mereka hingga mampu merubah wajah dunia ini menjadi baik dan buruk. Itu semua berawal dari eksodus mereka. Dan sejarah besar ini telah berawal di Mesir !

Bab IV: Masa Pengasingan, Bani Israel dan Ilmu Sihir
Dalam bab sebelumnya penulis telah menyajikan kepada Anda eksodus Bani Israel. Kini kita akan melihat satu sisi kehidupan Bani Israel dalam pengasingan mereka. Setelah Bani Israel selamat dari kejarahan Firaun, muncullah sekelompok orang yang menentang Nabi Musa dan Nabi Harun. Kelompok ini dikenal keras kepala dan berlumuran dosa. Tingkah pola mereka yang congkak ini nampak ketika Nabi Musa mengajak kaumnya untuk masuk ke Kana’an (Palestina sekarang) Jawaban dari kaumnya dapat Anda baca di surat ke-5 ayat ke-22.

Intinya adalah Bani Israel ingin masuk ke Kana’an tanpa bersusah payah melawan musuh yang ada di tanah tersebut. Toh, menurut mereka selama ini Allah telah banyak membantu mereka dari kejaran Firaun, terutama terbelahnya laut Merah. Demikianlah pendapat mereka. Kalimat yang terlontarkan dari mereka sangat tidak layak.

”Pergilah Engkau dan Tuhanmu dan berperanglah kalian berdua. Sesungguhnya kami hanya duduk menanti saja.”

Demikianlah jawaban dari Bani Israel. Secara fisik mereka telah merdeka. Tetapi secara jiwa mereka masih tetap budak yang hina. Mereka hanya menanti kemenangan tanpa perlawanan, dan bermimpi di siang bolong bahwa toh Tuhan akan pasti memberi mereka tanah itu seperti yang dijanjikan. Bila memang demikian, tentu Tuhan tidak perlu repot-repot menyuruh berperang. Inilah pikiran picik dan sekaligus memperlihatkan sifat mereka yang penakut, tidak memiliki harga diri dan semau gue. Akhirnya, Allah membiarkan mereka selama 40 tahun menjadi pengembara di padang pasir tanpa bisa memasuki tanah Kana’an.

40 tahun ini merupakan makna bahwa Allah akan menghilangkan satu generasi yang berjiwa kecil tadi dan akan menggantikan generasi lain yang tangguh dan benar-benar tidak tersisa sedikit pun jiwa budak hina dahulu. Sebelum mereka berhasil masuk ke tanah kana’an, Nabi Musa wafat terlebih dahulu. Namun, banyak kisah di dalam Al Qur’an yang mengkisahkan beberapa kejadian yang terdapat di dalam Al Qur’an.

Patung sapi emas

Kejadian ini terkait hingga hari ini. Dan yang populer adalah cerita penyembahan anak sapi. Penyembahan anak sapi ini terjadi ketika Nabi Musa harus bertemu dengan Allah selama 40 hari.Selama itu pulalah terjadi penyelewengan di Bani Israel. Anak sapi yang terbuat dari emas bukanlah ide yang timbul begitu saja dari diri Samiri, sang tokoh pembuatnya. Seperti yang kita ketahui sebelumnya, Bani Israel telah lama tinggal di negeri Mesir , sebuah negeri yang penuh dengan dewa-dewa. Dan kontak budaya serta agama Mesir dengan Bani Israel telah terjalin lama. Dan dari sebagian Bani Israel inilah masih ada yang menyimpan budaya lokal Mesir, penyembahan terhadap dewa.


Uncle Sam


Tokoh Samiri sendiri di angkat oleh Allah dalam Al Qur’an bukanlah hanya sekedar nama. Ia rupanya memiliki ilmu sihir, sebuah ilmu wajib dipelajari di Mesir, dan belum hilang pula kepercayaannya terhadap kekuatan dewa yang ia yakini, meski ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Firaun mati tenggelam dan bagaimana pula ular-ular, sebuah makhluk binatang yang menjadi simbol kekuatan di Mesir, milik para ahli sihir kalah oleh tongkat Nabi Musa. Samiri rupanya masih menyimpan keyakinan pagan.

Dalam masa selanjutnya, ribuan tahun hingga kini, ilmu sihir, ular dan simbol-simbol peradaban Mesir kuno ini masih digunakan oleh Yahudi dalam organisasi rahasianya (pembaca harap sabar untuk masuk pada artikel ini. Penulis akan menyajikannya kepada Anda. Untuk saat ini Anda harus tahu lebih dahulu sejarah panjang Bani Israel ini. Dan adalah bukan hal yang aneh jika Allah mengangkat kisah Nabi Musa lebih banyak dari pada nabi-nabi yang lain karena ini terkait dengan zaman hari ini. Mengapa demikian, pastikan Anda mengikuti terus artikel ini).

Samiri juga tahu kalau bukan hanya dirinya yang masih menyimpan keyakinan pagan Mesir ini. Ia dengan cerdik menggunakan kesempatan emas tanpa kehadiran Nabi Musa. Adapun Nabi Harun, Samiri tahu kalau beliau tidak ‘sekeras karakternya’ seperti Nabi Musa. Kisah tentang ini dapat Anda baca lebih jauh di surat Thoha surat ke-20 ayat ke-85 hingga ke-98.

ilustrasi penyembahan anak sapi oleh Bani Israel

Selanjutnya dari kisah Samiri ini adalah ia diusir oleh Nabi Musa. Tidak dijelaskan selanjutnya bagaimana nasib Samiri. Tetapi yang menarik adalah timbul pertanyaan, apakah Samiri diusir diikuti pula oleh sebagian Bani Israel yang percaya pada apa yang Samiri bawa? Jika tidak, mengapa budaya bangsa India hari ini sama dengan cerita dalam Al Qur’an, penyembahan (anak) sapi. Perlu diselidiki lebih lanjut oleh para sejarawan kaitan yang begitu erat antara Mesir kuno dan India hari ini. Kita tahu kalau sungai Nil merupakan sungai suci bagi bangsa Mesir. Dan sungai Gangga di India pun demikian.


Hapi Dewa Sungai Nil

Gangga, Dewa Sungai Gangga


Apis, dewa berbentuk sapi bangsa Mesir

Nandini, sapi tunggangan dewa agama hindu

Kita tahu kalau ular kobra adalah simbol kekuatan bagi Firaun dan tukang sihir di Mesir dan ular kobra pulalah binatang yang begitu dekat dengan budaya India.

Lihatlah Apopis, dewa ular bangsa Mesir ada persamaan dengan Dewa Siwa, perhatikan ular kobra yang ada di leher.

Dewa Siwa

Kita tahu kalau bangsa Mesir percaya dewa matahari Ra dan Hindu percaya pada dewa Surya.


Ra, Dewa Matahari Mesir kuno

Surya, Dewa Matahari agama Hindu

Selengkapnya lihat gambar berikut akan dewa-dewa bangsa Mesir kuno




Apakah Samiri dan pengikutnya menyeberang ke India dan membentuk peradaban dan agama baru di sana? Biarkan ini menjadi pekerjaan rumah para sejarawan untuk membuktikannya.

Kembali kepada kisah penyembahan sapi. Bangsa Mesir telah lama percaya akan penyembahan sapi dan Samiri menggunakan ilmu sihirnya untuk membuktikan bahwa budaya Mesir kunolah yang menolong mereka dari bencana Firaun. Ini dikatakan olehnya dalam Al Qur’an:
“Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa tetapi Musa telah lupa” (Thoha-88)

Perhatikan kalimat Samiri: Musa telah lupa. Samiri tahu kalau dulu Nabi Musa pernah dibesarkan di lingkungan istana Mesir yang penuh dengan ukiran dewa-dewa. Dan Samiri tahu jika Nabi Musa dulu pernah lama tinggal di Mesir dan hidup serta bergaul dengan budaya Mesir. Dan tentu Nabi Musa tahu persis akan Apis, dewa sapi bangsa Mesir. Maka ia mengatakan kalau Nabi Musa lupa. Lupa akan budaya dan dewa Mesir. Tetapi Samiri lupa jika Nabi Musa bukanlah penyembah dewa!

Penyembahan Bani Israel kepada anak sapi hasil ilmu sihir Samiri merupakan bukti bahwa Bani Israel percaya akan sihir begitu kuat. Mengapa dapat dikatakan demikian? Mereka dengan jelas-jelas melihat kekuatan Allah melalui terbelahnya laut Merah tetapi tidak percaya akan keberadaan Allah itu sendiri. Ini dapat Anda tinjau di surat AL Baqarah ayat ke-55.

Dan ayat ini merupakan petunjuk bagi kita bahwa Bani Israel yang diteruskan hingga kini adalah pelopor aliran filsafat empirisme. Dan untuk menghapus keyakinan mereka pada kekuatan sapi ini, maka Allah membuat skenario akan terbunuhnya salah seorang Bani Israel. Dan untuk mengetahui siapa pembunuhnya tersebut mereka harus memotong seekor sapi! Tetapi oleh Bani Israel mereka mengajak debat, sebagai keengganan mereka untuk melakukannya. Keengganan ini ada dua. Pertama untuk menutupi pembunuh sesungguhnya dan yang kedua ada yang merasa ‘kualat’ memotong sapi ynag dulu mereka percayai sebagai binatang suci. Kalaupun sapi itu dipotong, yang mereka tahu adalah dengan ritual ala bangsa Mesir kuno bukan dengan ritual baru ala syariah Nabi Musa. Keengganan mereka ini dapat dibaca pula di surat Al Baqarah ayat ke-67 hinga ke-74.

Ada satu hal dalam ayat tersebut di atas. Bani Israel tidak hanya pelopor aliran filsafat empirisme, tetapi juga aliran rasionalisme dengan mencoba berdebat dalam pemotongan sapi betina yang menurut mereka tidak masuk akal.

Demikianlah kisah Bani Israel dalam pengasingan yang mempertontonkan sebagian dari mereka yang percaya akan sihir. Kedekatan Bani Israel dengan ilmu sihir ini akan kembali hadir di zaman kita saat ini. Ada terdapat istilah kabbalah, sebuah aliran kuno bangsa Mesir yang dihidupkan kembali oleh Yahudi dan juga simbol-simbol bangsa Mesir kuno lainnya yang terkait dengan mistik dan sihir.

Bab V: Zaman Setelah Nabi Musa
Nabi Musa wafat sebelum beliau menginjakkan kakinya di tanah Kana’an. Adapun nasib Bani Israel sendiri dipimpim oleh Yusya’ bin Nuh atau dalam Bible beliau disebut Joshua. Menurut para ahli tafsir, beliaulah yang menemani Nabi Musa dalam surat al Kahfi ayat ke-60 dan 62. Di bawah kepemimpinan Yusya’ bin Nuh ini, Bani Israel mulai menyusun serangan dalam satu pasukan generasi baru setelah empat puluh tahun lamanya mereka terlunta-lunta di padang pasir. Pada tahun 1190 sebelum Masehi, beliau berhasil menaklukkan musuh dan menduduki kota Jericho.

Kemudian mereka menyerang kota Adi, sebelah Ramallah,dan berusaha menaklukan al Quds (yang ketika itu menjadi ibu kota bangsa Yabus). Namun, beliau gagal. Jumlah pasukan yang lebih kecil dari musuh membuat mereka terhalang untuk menguasai semua wilayah di Kana’an (Palestina). Yusha bin Nuh adalah seorang pahlawan yang gagah berani dan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad nama beliau disebut oleh Rasul sebagai berikut: “Sesungguhnya matahari belum pernah ditahan bagi manusia kecuali untuk Yusya’di hari-hari pertempurannya merebut kota al Quds.”

ilustrasi Yusya bin Nuh yang sedang berdo’a agar matahari tertahan

Sepeninggal Yusya’, Yahudi dipimpin oleh sekelompok pemimpin yang dikenal dengan sebutan “Para Hakim”, dan zaman mereka ini dikenal dengan nama “Zaman Para Hakim”. Kondisi masyrakat Bani Israel ketika di Palestina kembali mengalami penyelewengan moral serta agama. Dan hal ini lebih akut dan sulit untuk diperbaiki. Sepuluh perintah Allah dari Nabi Musa dalam Taurat banyak yang diselewengkan. Memang mereka menguasai tanah Palestina, tetapi kesatuan dan kekuatan mereka lemah akibat dari perbuatan mereka sendiri yang lebih mementingkan nafsu diri sendiri.

Di saat itulah banyak kabilah-kabilah badui yang menyerang mereka. Dalam keadan terjepit, Allah melahirkan di tengah-tengah mereka Para Hakim. Dan kepemimpinan mereka ini tidak berdasarkan hak warisan keturunan. Mereka mendapatkan posisi ini setelah melewati serangkaian ujian berat. Dengan adanya ujian ini, lahirlah para pahlawan Bani israel. Karena itu dalam satu waktu, bisa saja terdapat beberapa hakim yang maju bersama-sama memerangi musuh-musuh mereka. Dan pemerintahan para hakim ini berlangsung selama 150 tahun. Dari sekian para hakim, yang terkenal adalah:

1. Gideon
Ia berusaha menyatukan Bani Israel di bawah kekuasaannya. Namun, watak keras kepala Bani Israel telah menenggelamkan rasa persatuan dan solidaritas mereka. Inilah faktor yang menghambat tujuan Gideon.

ilustrasi Gideon sedang menyerang

2. Samson
Ia adalah seorang yang keras dan kuat. Banyak peran yang dilakukannya dalam memerangi bangsa Filistine. Dalam film Samson and Delillah beliau digambarkan tidak terhormat karena gara-gara wanita beliau terhina.

3. Samuel
Ia adalah seorang pemimpin agama yang kemudian dijadikan Nabi. Beliaulah yang merupakan kisah di mana Thalut menjadi jenderal unutk berperang dengan Jalut di surat Al Baqarah ayat ke-246 hingga 251. Pada masa beliau, Bani Israel dalam masa-masa sulit sebagai sebuah bangsa besar. Mereka ingin agar kejayaan sebagai sebuah bangsa besar dapat terwujud. Dan ini hanya diraih dengan berperang melawan musuh-musuh mereka. Karena itulah, mereka meminta kepada Nabi Samuel untuk menentukan seorang raja bagi mereka yang dapat memimpin dan berperang melawan musuh-musuh mereka. Selanjutnya Anda dapat merujuk ke surat al Baqarah ayat ke-246 hingga 251.

4. Deborah
Beliau adalah seorang wanita yang kuat dan nekatan. Ia mampu mengambil peran laki-laki dalam berbagai peperangan. Ia adalah seorang wanita keturunan Ephraem. Masa Para Hakim ini berlangsung hingga berdirinya kerajaan Bani Israel. Jumlah mereka sampai lima belas hakim di anatara mereka yang telah disebutkan di atas adalah Tashnael, Ahor, Shamago, Yadan, Yefta dan lain-lain. Para sejarawan mengatakan bahwa pada zaman Para Hakim, Bani Israel mirip dengan Amerika Serikat: setiap wilayah satu suku dipimpin oleh beberapa pembesar suku. Suku-suku ini semuanya saling berhubungan dan disatukan oleh satu ikatan. Jika Anda membaca Kitab Para Hakim di Bible, Anda akan mendapatkan kesimpulan bahwa masa ini adalah masa terburuk Bani Israel. Kejahatan dan kemungkaran tersebar, patung-patung disembah, orang-orang saleh dibunuh dan perzinaan semarak. Akibat dari penyimpangan akidah dan moral, Bani Israel tertimpa banyak cobaan dan serangan musuh. Puncak dari keputus-asaan mereka ini disampaikan melalui dialog di surat al Baqarah tadi. Maka Allah memilih Thalut atau Saul sebagai pemimpin perang.
 

Ilustrasi Thalut diresmikan menjadi pemimpin perang oleh Nabi Samuel dan jadilah beliau pemimpin Bani Israel untuk berperang. Dan ini terjai pada 1025 sebelum Masehi. Thalut atau Saul adalah raja pertama Bani Israel. Namun, beliau tidak pernah berada di ibu kota. Hidupnya lebih banyak dihabiskan di tenda militer dan medan pertempuran. Musuh-musuhnya tidak pernah memberi kesempatan untuk membentuk entitas sebuah kerajaan.

Peperangan beliau yang termashur adalah ketika berhadapan dengan Jalut atau Goliath. Tidak hanya karena pasukan yang dibawanya yang sedikit melawan pasukan berjumlah besar, tetapi juga tampilnya seorang anak muda yang berhasil membunuh Jaluth atau Goliath, Daud yang kemudian juga menjadi raja sekaligus nabi.


Nabi Daud atau David lahir di kota Betlehem. Beliau adalah Daud bin Yussa. Di masa remajanya beliau adalah penggembala kambing, sebuah profesi para nabi dan rasul sebelum di angkat menjadi nabi atau rasul. Nabi Daud menjadi raja setelah Thalut wafat. Beliau menjadi raja pada tahun 1044 sebelum Masehi hingga 963 sM. Kira-kira 40 tahun masa pemerintahan beliau. Pada tujuh tahun pertama pemerintahannya, el Khalil (Hebron) adalah ibu kota kerajaan. Namun, pada tahun-tahun berikutnya, ibu kota kerajaan dipindahkan ke Yerusalem. Pada masa pemerintahannya, beliau berhasil menaklukkan dan mengusir bangsa Yabus dari kota al Quds pada tahun 995 sM.

Beliau adalah pendiri kerajaan Israel di Palestina yang sesungguhnya, semua Nabi dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad membawa satu misi tunggal yang sama: Tiada Tuhan selain Allah. Dan ini adalah tauhid. Dan inti dari Islam. Yang membedakan hanyalah syariat. Syariat Nabi Musa dan Nabi Muhammad berbeda, karena kondisi waktu dan tempat serta memang itu adalah ketetapan Allah.

Inilah apa yang disampaikan oleh Nabi Musa pertama kali kepada Bani Israel untuk mengusir bangsa Filistine dari Palestina. Karena misi sentral Nabi Musa adalah tauhid dan bangsa Filistine saat itu adalah bangsa berideologi pagan.

Setelah Nabi Daud wafat, maka sebagai penggantinya adalah Nabi Sulaiman. Zaman beliau ini secara umum adalah zaman tenang baik secara politik, sosial dan ekonomi. Hal tersebut dikarenakan Nabi Daud telah menghilangkan segala rintangan dan menaklukkan seluruh kekuatan politik. Dengan demikian, Nabi Sulaiman dapat berkonsentrasi pada pembangunan dan perluasan kerajaan Beliau menjadi raja pada tahun 963 hingga wafat pada tahun 923 sM.

Kejayaan kerajaan Yahudi/Israel zaman Nabi Sulaiman ini merupakan hal yang wajar. Di satu sisi karena masa tenang secara politik juga karena Nabi Sulaiman memohon agar beliau diberi sebuah masa kerajaan yang hebat hingga tidak ada lagi Nabi sesudahnya yang diberi anugerah seperti beliau. Artinya, semasa hidup Nabi sesudah Nabi Sulaiman tidak memiliki apa yang dimiliki oleh Nabi Sulaiman. Dan pada masa ini beliau membangun sebuah kuil Temple of Solomon Atau Bait Allah.

Maket ilusi Yahudi-zionis akan kuil(?) Nabi Sulaiman. Perhatikan bagaimana kuil tersebut menyimbolkan agama pagan dari pada agama Islam (tauhid).

Jika memang Nabi Sulaiman membangun sebuah masjid tentu masjid tersebut bukanlah tempat menyimpan harta yang banyak. Sebab di zaman sekarang banyak Yahudi yang menduga di bawah reruntuhan kuil itu terdapat harta Nabi Sulaiman yang kini di atasnya berdiri masjid al Aqsa. Sebagai seorang muslim dan Nabi, raja Sulaiman tidaklah mungkin menyimpan harta kekayaannya di kuilnya. Menurut Sayid Quthub dalam tafsirnya, beliau mengatakan:
“Tidak semua penduduk bumi menjadi tentara Nabi Sulaiman, karena kerajaannya tidak lebih dari apa yang ada sekarang dikenal dengan Palestina (ini benar menurut penulis, karena ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Sulaiman hanya untuk Bani Israel dan tanah Palestina sebagai misi warisan dari Nabi Musa dan bukan untuk menguasai seluruh jazirah timur tengah. Karena itu tadi, dakwah Islam Nabi Sulaiman terbatas pada bangsa Israel, demikian pendapat penulis yang setuju dengan pendapat Sayid Quthub). Juga tidak semua jin dan burung ditundukkan bagi Nabi Sulaiman, hanya beberapa kelompok dari mereka.”
Memang tulisan di atas seperti masuk akal, harta yg paling berharga bagi umat Yahudi adalah ilmu pengetahuan. Masih banyak saja yg menduga harta itu berupa emas atau lainnya 

Demikian pendapat Sayid Quthub. Sebagai kata penutup untuk bab ini, Nabi Sulaiman inilah yang menjadi sasaran fitnah Yahudi zionis di masa mendatang sebagai penguasa ilmu sihir dan pelindung setan. Fitnah terus berlangsung dengan ilusi tentang kuil yang sejatinya hanyalah sebuah masjid untuk beribadat. Tetapi oleh Yahudi-zionis dijadikan alasan untuk meruntuhkan masjid al Aqsa dan mendirikan kerajaan setan berlandaskan ilmu sihir kabbalah.
Gambar ilusi kuil Nabi Sulaiman

Hal ini disampaikan oleh Allah dalam surat al Baqarah ayat ke-102 tentang fitnah atas Nabi Sulaiman yang penyembah Iblis dan pelindung setan serta memiliki ilmu sihir penerus ilmu sihir kabbalah. Dan ini akan dibahas lebih jauh dalam kesempatan posting dan pada bab-bab berikutnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan masukan komentar Anda

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...