Kamis, 29 Mei 2014

FIVE MINDS FOR THE FUTURE


Lima Pemikiran  untuk Masa Depan    
Terdapat lima pikiran untuk masa depan sebagaimana ditulis oleh Gardner adalah:
1.    Pikiran Disiplin;
2.    Pikiran sintesa;
3.    Pikiran Menciptakan;
4.    Pikiran Hormat, dan
5.    Pikiran Etis.
Gardner merasa bahwa lima pikiran tersebut sangat penting di masa depan. Pendidikan adalah kunci untuk mengembangkan lima pikiran untuk masa depan, dan sementara orang tua, teman sebaya dan media juga memainkan peran penting dalam mempengaruhi dan mengembangkan pikiran di masa depan. Selain itu, penting untuk dicatat bahwa dalam dunia yang semakin cepat berubah, tidak ada individu atau organisasi yang santai dalam mengasah intelektualnya. Masa depan adalah milik mereka yang telah membuat komitmen seumur hidup untuk terus belajar. Gardner percaya bahwa di tempat kerja kita harus mencari orang yang memiliki disiplin, sintesis, menciptakan, pikiran hormat dan etika, tetapi semua harus terus terus-menerus dikembangkan oleh diri kita sendiri dalam kehidupan bermasyarakat.
Lima pola pikir ini sejatinya digagas oleh Howard Gardner melalui salah satu bukunya yang memikat bertajuk Five Minds for the Future. Gardner sendiri merupakan pakar psikologi yang dikenal luas karena dia juga orang yang pertama kali memperkenalkan teori kecerdasan majemuk (multiple intelligences). Melalui serangkaian riset yang ekstensif, Gardner menyimpulkan adanya lima jenis pola pikir yang akan memiliki peran makin penting dalam perjalanan sejarah masa depan.
Pola pikir yang pertama adalah the disciplined mind (pikiran terdisiplin) atau suatu perilaku kognisi yang mencirikan disiplin ilmu, ketrampilan, atau profesi tertentu. Seorang praktisi yang menekuni dunia bisnis dan manajemen misalnya, setidaknya mesti menguasai ilmu dan ketrampilan yang solid dalam bidang tersebut. Demikian pula, semua profesional lainnya – entah arsitek, ahli komputer, perancang grafis – harus menguasai jenis-jenis pengetahuan dan ketrampilan kunci yang membuat mereka layak menjadi bagian dari profesi mereka masing-masing. Esensi dari pola pikir yang pertama ini adalah : untuk benar-benar menjadi manusia yang profesional, kita mestinya menguasai secara tuntas, komprehensif, mendalam dan terdisiplin satu bidang pengetahuan/ketrampilan tertentu.
Pola pikir yang kedua adalah : the synthesizing mind (pikiran mensintesa). Atau juga pola untuk menyerap informasi dari beragam sumber, memahami, mensintesakannya, dan lalu meraciknya menjadi satu pengetahuan baru yang powerfull. Kecakapan dalam melakukan sintesa ini tampaknya menjadi kian penting terutama ketika banjir informasi kian deras mengalir melalui beragam media : televisi, media cetak, dan dunia online. Dan sialnya, bongkahan informasi yang deras mengalir itu acap kali dipenuhi dengan informasi sampah (junk information).
Pola pikir yang ketiga adalah the creating mind (pikiran mencipta). Pikiran ini mengharuskan kita untuk senantiasa merekahkan ide-ide baru, membentangkan pertanyaan-pertanyaan tak terduga, menghamparkan cara-cara berpikir baru, dan sekaligus memunculkan unexpected answers. Pola pikir inilah yang akan membawa kita masuk dalam wilayah-wilayah baru yang menjanjikan harapan dan peluang untuk direngkuh dan dimanfaatkan. Pola pikir inilah yang akan membuat kita mampu berpikir secara lateral (out of the box) dan bukan sekedar berpikir linear mengikuti jalur konvensional yang acap hanya akan membuat kita stagnan. Dan pola pikir inilah yang akan menemani kita untuk bergerak maju, progresif, demi terciptanya sejarah hidup yang positif dan bermakna (meaningful life).
Pola pikir berikutnya adalah the respectful mind (pikiran merespek). Atau sebuah pola pikir untuk menghargai perbedaan pandangan dengan sukacita, dan bukan dengan sikap saling curiga. Sebuah pola pikir yang akan membuat kita terhindar dari anarki akibat pemaksaan kepentingan. Sebuah pola pikir yang senantiasa mengajak kita untuk merayakan keragaman pandangan dan sekaligus menghadirkan empati nan teduh bagi pendapat/pikiran orang lain – meski pendapat itu mungkin berbeda dengan yang kita hadirkan.
Pola pikir yang kelima yang juga amat dibutuhkan adalah the ethical mind (pikiran etis). Inilah pola pikir yang terus membujuk kita untuk berikhtiar membangun kemuliaan dan keluhuran dalam kehidupan personal dan profesional kita. Pikiran Etis dapat menggabungkan peran di tempat kerja dan sebagai warga negara dan bertindak secara konsisten dengan orang. Kita semua harus berkomitmen untuk mewujudkan orientasi etika dalam pekerjaan. Hal ini secara etis juga harus mencakup peran sipil dimana setiap dari kita harus memiliki komitmen untuk secara pribadi bekerja menuju terwujudnya masyarakat yang berbudi luhur yang dapat dibanggakan. Sebuah orientasi etis dimulai di rumah di mana anak-anak mengamati orang tua mereka pada pekerjaan mereka dan bermain dan dalam tanggung jawab. Dalam masyarakat kontemporer, juga menganggap penting dari usia dini, dan kualitas dari rekan-rekan seseorang membuktikan sangat penting selama masa remaja dalam pengembangan pelatihan etika. Tidak ada etika yang benar-benar universal di semua budaya dan era, namun seorang pekerja yang baik umumnya memiliki seperangkat prinsip dan nilai-nilai yang mereka dapat nyatakan secara eksplisit bahwa mereka hidup. Prinsip-prinsip ini konsisten dengan satu sama lain dan disimpan dalam pikiran terus-menerus. Mereka bersikap transparan dan tidak akan menyembunyikan apa yang mereka lakukan. Pekerja Etis juga tidak munafik, tetapi mematuhi prinsip-prinsip yang membimbing mereka bahkan ketika mereka pergi melawan kepentingan pribadi mereka. Bicara etis sering tampak untuk melawan kekuatan-kekuatan ekonomi dari kepentingan yang membentuk bagian penting dari masyarakat modern kita. Pasar bisa jadi kejam dan keras. Jonathan Sacks mengatakan bahwa "Ketika segala sesuatu yang penting dapat dibeli dan dijual, ketika komitmen dapat rusak karena mereka tidak lagi untuk keuntungan kita, saat berbelanja menjadi keselamatan dan slogan iklan menjadi panduan kita, ketika nilai kita diukur oleh berapa banyak yang kita pengaruhi, maka pasar menghancurkan nilai-nilai yang sangat luhur di mana dalam jangka panjang akan hancur. Setiap profesional harus dilatih dalam pikiran etika untuk kebaikan individu dan masyarakat secara keseluruhan
Menurut asumsi Gardner percaya bahwa untuk melakukan praktek-praktek pendidikan yang baru dibutuhkan waktu.  Ia percaya bahwa praktek saat ini tidak bekerja dan bahwa kita tidak mendidik orang muda yang mampu berteori ilmiah, toleran terhadap imigran atau terampil dalam resolusi konflik. Kedua, ia merasa bahwa kondisi di dunia telah berubah dan terus berubah begitu signifikan bahwa tujuan-tujuan tertentu, kapasitas dan praktek mungkin tidak lagi bermanfaat, tetapi sebenarnya kontraproduktif. Kita hidup pada saat perubahan besar. Sebagian besar perubahan ini memerlukan kekuatan ilmu dan teknologi dan globalisasi. Maka dari itu pendidik perlu memutuskan ciri-ciri apa yang ingin mereka kembangkan pada anak-anak sebelum mengembangkan suatu sistem pendidikan.
Menurut Gardner Globalisasi memiliki empat trend yang belum pernah terjadi sebelumnya:
1.    Pergerakan modal dan instrumen pasar lainnya di seluruh dunia, dengan jumlah     besar yang beredar dalam sekejap setiap hari.
2.    Gerakan manusia lintas batas, dengan lebih dari 100-juta imigran tersebar di seluruh dunia setiap saat.
3.    Gerakan dari semua masalah informasi melalui dunia maya, dengan megabyte informasi berbagai derajat kehandalan yang tersedia untuk siapapun dengan akses ke komputer.
4.    Gerakan budaya populer - seperti makanan, pakaian, gaya, dan musik - mudah melintasi perbatasan sehingga remaja di seluruh dunia tampak semakin serupa, bahkan sebagai selera, keyakinan dan nilai-nilai orang tua mereka juga mungkin saling bertemu.
Gardner percaya bahwa pendidikan formal saat ini masih mempersiapkan para siswa terutama untuk dunia masa lalu, bukan untuk kemungkinan dunia masa depan. Gardner mengakui pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi tidak mengajarkan cara berpikir ilmiah, apalagi bagaimana mengembangkan kapasitas individu dengan mensintesis dan kreatif, penting untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terus-menerus. Gardner juga mengakui faktor globalisasi, tetapi belum tahu bagaimana mempersiapkan anak-anak sehingga mereka dapat bertahan hidup dan berkembang dalam dunia yang berbeda dari apa yang kita bisa bayangkan. 
Demikianlah, lima pola pikir yang barangkali mesti selalu kita injeksikan dalam segenap ranah kognisi kita. Sebab dengan itulah, kita bisa menyimpan sepenggal asa untuk membentangkan masa depan yang indah nan tercerahkan.
Sebagai kesimpulan, mengenai perkembangan lima pikiran dalam kehidupan, menurut Gardner orang tua anak dan guru harus fokus pertama pada menanamkan pikiran hormat, selanjutnya pikiran disiplin, diikuti oleh pikiran sintesis dan akhirnya, di sekolah menengah, penekanan pada etika. Kreativitas berbarengan dengan pemikiran disiplin. Dengan tidak adanya disiplin, tidak mungkin akan benar-benar kreatif dan tidak adanya kreativitas, disiplin hanya dapat digunakan untuk pergi ke status quo. Sementara setiap orang mungkin memiliki kekuatan dalam satu atau lebih wilayah, kita semua harus berusaha untuk mengembangkan keseimbangan dari semua lima pikiran. Apapun kepentingan mereka di masa lalu, kelima pikiran cenderung menjadi sangat penting dalam dunia yang ditandai oleh hegemoni ilmu pengetahuan dan teknologi, transmisi informasi global, penanganan tugas-tugas rutin oleh komputer dan meningkatkan kontak antara populasi beragam. Hanya mereka yang berhasil dalam mengembangkan lima pikiran yang paling mungkin untuk berhasil dalam hidup.

ANALISIS FILOSOFIS ATAS
BUKU “FIVE MINDS FOR THE FUTURE” KARYA HOWARD GARDNER

Howard Gardner dalam bukunya yang bertajuk Five Minds for the Future menyimpulkan adanya lima jenis pola pikir yang akan memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah masa depan. Lima pola pikir tersebut adalah:

I. THE DISCIPLINE MINDKerangka Dasar atau Kerangka Utama Kecerdasan/ Pemikiran
Pola pikir yang pertama adalah the disciplined mind (pikiran terdisiplin) atau suatu perilaku kognisi yang mencirikan disiplin ilmu, ketrampilan, atau profesi tertentu. Seseorang harus memiliki paling tidak satu disiplin ilmu atau kerangka berpikir yang sangat dikuasai untuk memecahkan masalah di segala hal. Discipline Mind juga berarti seseorang harus selalu melatih keahliannya tersebut untuk meningkatkan performansinya.
Pola pikir disciplined mind sesungguhnya sudah terlebih dahulu menjadi sorotan dan titik pijak dalam filsafat sepanjang masa, sejak filsafat kuno hingga filsafat modern dan post modern. Sebagaimana ciri khas filsafat adalah membangun pemikiran secara kritis-analitis, sistematis, totalitas dan komprehensif – yang merupakan ciri khas disciplined mind – demikian pun filsafat mendorong setiap ilmu apapun untuk memiliki ciri khas yang demikian. Ciri ini pun pada tataran selanjutnya harus dimiliki oleh setiap orang yang menggeluti ilmu tertentu. Menurut filsuf Karl Pearson, pikiran adalah lukisan atau keterangan yang komprehensif dan konsisten tentang fakta pengalaman dan diungkapkan dengan istilah sederhana. Setiap orang yang menekuni disiplin ilmu tertentu harus mampu menguasai secara komprehensif dan selanjutnya diungkapkan secara tepat dalam praksis hidup.
Seorang praktisi yang menekuni dunia bisnis dan manajemen misalnya, setidaknya mesti menguasai ilmu dan ketrampilan yang solid dalam bidang tersebut. Demikian pula, semua profesional lainnya – entah arsitek, ahli komputer, perancang grafis – harus menguasai jenis-jenis pengetahuan dan ketrampilan kunci yang membuat mereka layak menjadi bagian dari profesi mereka masing-masing. Keahlian itu sendiri tidak bisa dicapai dalam waktu singkat, butuh waktu. Namun seiring peningkatan dan penambahan area keahlian seseorang maka pemecahan masalah pun bisa lebih terarah dan lebih mudah jika menerapkan discipline mind tersebut karena dilandasi oleh kerangka berpikir yang tepat dan keahlian yang mumpuni.
Esensi dari pola pikir yang pertama ini adalah : untuk benar-benar menjadi manusia yang profesional, kita seharusnya menguasai secara tuntas, komprehensif, mendalam dan terdisiplin satu bidang pengetahuan/ketrampilan tertentu.

II. THE SYNTHESIZING MINDMensinergikan Ide dan Pemikiran dari Disiplin Ilmu Yang Berbeda
Pola pikir yang kedua adalah : the synthesizing mind (pikiran mensintesa) atau juga pola untuk menyerap informasi dari beragam sumber, memahami, mensintesakannya, dan lalu meraciknya menjadi satu pengetahuan baru yang powerfull.
Pola pikir ini juga merupakan salah satu ciri khas filsafat. Filsafat selalu menekankan kemampuan pikiran untuk mensintesiskan pengetahuan.  Filsuf Immanuel Kant dalam karya utamanya yang terkenal terbit tahun 1781 yang berjudul Kritik der reinen vernunft (Ing. Critique of Pure Reason), memberi arah baru mengenai pengetahuan.  Menurutnya, pengetahuan yang dimiliki manusia merupakan hasil sintesis antara yang apriori (yang sudah ada dalam kesadaran dan pikiran manusia) dengan impresi yang diperoleh dari pengalaman. Bagi Kant yang terpenting bagaimana pikiran manusia mamahami dan menafsirkan apa yang direkam secara empirikal, bukan bagaimana kenyataan itu tampil sebagai benda itu sendiri.
Seseorang harus mampu menggabungkan berbagai pola pemikiran dan disiplin ilmu agar dapat mengumpulkan informasi dan pengetahuan seluasnya dari berbagai macam sumber serta melahirkan berbagai macam ide dan ilmu pengetahuan baru yang bermanfaat. Oleh karenanya seseorang dituntut untuk dapat mensinergikan berbagai macam disiplin ilmu, pengetahuan, serta kerangka berpikir. Kemampuan untuk mensinergikan tersebut sangatlah vital untuk masa sekarang dan masa depan karena merupakan keahlian dasar yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin yang inovatif.

III. THE CREATING MINDMembuka Tabir dan Memecahkan Masalah Melalui Kreativitas dan Ide Inovatif
Pola pikir yang ketiga adalah the creating mind (pikiran mencipta). Pikiran ini mengharuskan kita untuk senantiasa merekahkan ide-ide baru, membentangkan pertanyaan-pertanyaan tak terduga, menghamparkan cara-cara berpikir baru, dan sekaligus memunculkan unexpected answers. Pola pikir inilah yang akan membawa kita masuk dalam wilayah-wilayah baru yang menjanjikan harapan dan peluang untuk direngkuh dan dimanfaatkan. Pola pikir inilah yang akan membuat kita mampu berpikir secara lateral  dan bukan sekedar berpikir linear mengikuti jalur konvensional yang acap hanya akan membuat kita stagnan. Dan pola pikir inilah yang akan menemani kita untuk bergerak maju, progresif, demi terciptanya sejarah hidup yang positif dan bermakna (meaningful life).
Dalam filsafat, pola pikir kreatif merupakan hal penting yang menuntut setiap orang untuk melihat ilmu atau pun pandangan apa saja sebagai sesuatu yang selalu terbuka untuk disempurnakan. Kreativitas dalam berpikir mendorong setiap orang untuk selalu mencoba, menguji, dan mencari jawaban yang paling sempurna tentang sesuatu. Radhakrishnan dalam bukunya, History of Philosophy, menyebutkan tugas filsafat bukanlah sekadar mencerminkan semangat masa ketika kita hidup, melainkan membimbingnya maju. Fungsi filsafat adalah kreatif, menetapkan nilai, menetapkan tujuan, menentukan arah dan menuntun pada jalan baru. Filsafat hendaknya mengilhamkan pikiran dan keyakinan kepada kita untuk menompang dunia baru, mencetak manusia-manusia yang menjadikan penggolongan-penggolongan berdasarkan 'nation', ras, dan keyakinan keagamaan mengabdi kepada cita mulia kemanusiaan.
Di dalam pola pikir ini, seseorang dituntut harus memiliki kreativitas berpikir. Kreativitas tersebut digunakan untuk membantu pemecahan masalah di luar cara yang sudah ditentukan sebagai alternatif pemecahan masalah juga kemampuan membuat terobosan baru. Kreativitas disini juga adalah suatu kemampuan menciptakan sesuatu yang tidak bisa diidentifikasi komponennya. Kreativitas tidak terbatas dan tidak dapat dibatasi sehingga diharapakan para pemimpin sangat mengerti akan kunci kreativitas berpikir tersebut sehingga dapat respek akan ide-ide kreatif, membuka ruang dan kesempatan serta menciptakan atmosfer yang mendukung.

IV. THE RESPECTFUL MIND Penghargaan Perbedaan Dengan Orang Lain
Pola pikir berikutnya adalah the respectful mind (pikiran merespek) atau sebuah pola pikir untuk menerima perbedaan pandangan dengan sikap terbuka, dan bukan dengan sikap saling curiga. Sebuah pola pikir yang akan membuat kita terhindar dari anarki akibat pemaksaan kepentingan. Sebuah pola pikir yang senantiasa mengajak kita untuk merayakan keragaman pandangan dan sekaligus menghadirkan empati bagi pendapat/pikiran orang lain – meski pendapat itu mungkin berbeda dengan yang kita hadirkan.
Filsafat yang autentik sangat respek terhadap perbedaan pandangan, ide, gagasan, atau pemikiran. Filsafat tidak pernah merasa “puas” atau “sempurna” dengan apa yang telah dicapai, tetapi senantiasa melihat sisi-sisi lain dari berbagai pandangan yang ada untuk mendapatkan suatu kebenaran universal. Di dalam filsafat, tidak ada diskriminasi pandangan. Yang ada adalah penghargaan atas perbedaan dan membangun sikap dialog yang kritis untuk menemukan dan menyepakati kebenaran yang dapat diterima umum.  Sebagai contoh ketika berhadapan dengan pertentangan epistemologik pengetahuan antara kaum rasionalisme versus kaum empirisme, Immanuel Kant berupaya “mendamaikan” pertentangan itu. Pada dasarnya Kant tidak mengingkari kebenaran pengetahuan yang dikemukakan baik oleh kaum rasionalisme maupun empirisme. Menurutnya, kesalahan terjadi bila masing-masing pihak mengklaim secara ekstrem pendapatnya dan menolak pendapat yang lain.
Seseorang yang memiliki the respectful mind dapat menerima dan menghargai pendapat dan perbedaan dengan orang lain, agar dapat bekerja sama, dan mampu menciptakan suasana keterbukaan dan hubungan timbal-balik serta tenggang rasa dan toleransi.
Sangat penting untuk ditanamkan pemikiran bahwa hak dan kewajiban serta kemauan seseorang itu terbatas oleh hak, kewajiban, dan kemauan orang lain. Sehingga apabila pemikiran itu bisa diterapkan maka setiap orang sudah memiliki the respectful mind yang diharapkan.
Pekerjaan yang dilakukan dalam tim pun dapat secara langsung atau tidak langsung membangun the respectful mind orang-orang yang terlibat di dalamnya. Dan bukan tidak mungkin kekuatan kerja dari tim tersebut bisa berkurang atau hilang sehingga gagal jika tidak memiliki the respectful mind yang tinggi.

V. THE ETHICAL MINDBerpikir untuk orang lain demi kepentingan bersama
Pola pikir yang kelima yang juga amat dibutuhkan adalah the ethical mind (pikiran etis). Inilah pola pikir yang terus mendorong kita untuk berikhtiar membangun kemuliaan dan keluhuran dalam kehidupan personal dan profesional kita. The ethical mind adalah kemampuan/kecerdasan seseorang untuk berpikir di luar keinginan pribadi dan di luar kemampuan diri yang telah dimiliki.
Filsafat mengartikan pikiran etis atau berpikir etis sebagai kegiatan berpikir dengan budi yang baik dan diterapkan dalam kehidupan setiap hari. Menurut Plato, berpikir etis adalah kegiatan manusia untuk mencapai budi atau pengetahuan yang baik. Dengan pengetahuan yang baik, manusia berupaya mencapai kebahagiaan hidup sebagai nilai yang dituju setiap manusia.
Sebenarnya the ethical mind ini sangat erat hubungannya dengan the respectful mind dan the synthesizing mind, serta the creating mind. Seperti dasar pemikiran the respectful mind bahwa hak, kewajiban, serta kemauan seseorang terbatas oleh hal yang sama dari orang lain, maka the ethical mind pun seperti itu sehingga dia sangat tahu di mana menempatkan diri dan bersikap serta apa yang boleh dan dapat diperbuatnya.
Seseorang yang memiliki the ethical mind itu tentu sangatlah cerdas karena dia harus dapat respek ke lingkungan sekitar sehingga dengan kemampuannya dapat bekerjasama dan mensinergikan berbagai pengetahuan dipadu dengan the creating mind yang dimiliki. Dia juga sangat tahu bagaimana caranya menerapkan segala pemikirannya pada lingkungannya di mana hal ini dimungkinkan karena dia memiliki pengetahuan di luar kemampuan yang sudah dimiliki sendiri tersebut. 


Sumber :Five Minds For The Future, Howard Gardner, Harvard Business School Publishing, Boston, Massachusetts, 2006

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan masukan komentar Anda

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...